Monday, September 18, 2023

Bagai PR matematika

Hidup ini memang penuh dengan tantangan (dan juga permasalahan), baik kita menyadarinya atau tidak. Terkadang, ada orang yang bilang ingin kembali ke masa kecil atau sekolah dasar, dimana tantangan atau masalah hanyalah PR atau ulangan matematika. Tapi, untuk anak sekecil itu, PR atau ulangan matematika merupakan tantangan yang sangat besar. Bahkan bisa membuat stress dari beberapa hari sebelum ulangannya bila anak kecil tersebut tidak atau belum mampu menguasai bahan pelajaran. Mungkin bagi kita, ya memang semudah menjentikkan jari jika kita mengerjakan PR itu sekarang. Namun, bagi anak itu, PR itulah yang bisa membuatnya naik kelas, seperti yang dituliskan juga dalam prolog tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini oleh mamah admin di website MGN: Tantangan hidup hadir sebagai 'ujian naik kelas' kehidupan. 


****

Dalam hidup pribadiku, setidaknya ada 2 tantangan besar yang paling membekas. Satu sudah terlewati, satu lagi sedang dihadapi. 

1. Mengejar Strata

Seperti yang pernah kuceritakan pada awal perkenalan dengan para Mamah MGN di blogpost tentang diriku, umur belasan dan dua puluhan hidupku kuhabiskan di ITB. Ya, 13 tahun lamanya aku betah untuk menimba ilmu di kampus kita tercinta ini, dari mulai 2005 sampai 2018, non stop. Walaupun mungkin cerita dan perjuangan di kampus tidak bisa dibandingkan dengan teman-teman lain seperti di cerita mamah Uril maupun teman-teman lainnya, tetapi selayaknya mahasiswa yang setiap akhir kuliahnya harus menyelesaikan tugas akhir sebagai syarat kelulusan, selalu ada cerita dalam mengejar strata.  

Kalau bisa kubilang, S1 dan S2 mempunyai pola pembelajaran yang mirip, menekankan di kelas, tugas atau praktikum, dan diakhiri dengan tugas akhir atau thesis. Tugas Akhir Sarjana Alhamdulillah berhasil diselesaikan dengan baik, didukung oleh dosen pembimbing yang sangat suportif terhadap para mahasiswanya. Ketika membuat Thesis Magister, karena terpikat dengan subject sewaktu TA, akhirnya kuputuskan untuk mendalami lagi tentang metode tersebut. Lumayan membuat stress sampai bilang ke diri sendiri bahwa ga akan lagi-lagi kuliah gini, salah jurusan sepertinya.. 

Tapi beberapa bulan setelah (Alhamdulillahnya) lulus, berdirilah aku di depan loket di gedung Annex. Mendaftar sekolah (lagi). Padahal baru aja bilang kalau kapok belajar lagi, huehehe. 

Motivasinya kuliah lagi??

Pertama: Ga diajak pak suami (baru mau nikah waktu itu) buat nemenin dia studi di Paris. Wuekekek. Daripada bete bengong sendirian di Indo, yaudahlah kita sekolah aja. 

Kedua: Lagi kesengsem sama salah satu topik penelitian yang belakangan ini lagi ngehits di dunia: CCS atau Carbon Capture Storage. Special thanks buat Bapak Dosen pembimbing dari S1 yang mengenalkanku tentang topik ini. 

Ketiga: Pengen nerusin cita-cita Aki. Kakekku sangat cinta akan geologi, akan Karang Sambungnya (tempat kuliah lapangan mahasiswa kebumian), akan kampus ITBnya. Sayangnya dari sekian banyak cucu-cucunya, yang meneruskan jejaknya di dunia kebumian hanya aku. Jadi, motivasi yang paling utama ini lah yang memantapkan niatku untuk mendaftar kuliah lagi. 

Foto Aki Dd yang kuambil waktu aku kuliah lapangan s1 di Karang Sambung. 
Walau tahun itu kesehatannya Dd sudah berkurang, tapi Dd bela-belain datang mengajar di Karsam karena cucu nya lagi ada disitu :')

Namun, Aki Dd, begitu kami memanggilnya, belum genap setahun aku memulai kuliah S3 ini, beliau berpulang. Jujur, aku langsung merasa demotivasi. Ditambah dengan hidup LDM yang ternyata sulit kubiasakan. Proposal penelitian pun seringkali ditolak dengan alasan penelitiannya sudah pernah dikerjakan dan diminta mencari keterbaruan lagi. Sungguh, 6 tahun ini luar biasa menguras energi, rasa, uang, dan juga kewarasan. Depresi dan terpuruk. 

 Aku bangkit lagi untuk menyelesaikan studiku karena Aki Dd (alm). Iya, aku tak ingin merusak citra baik dan nama besar beliau di kampus jika aku drop out dari program ini. Walaupun Beliau sudah tidak ada, tapi aku tetap ingin membuat beliau bangga. Dengan berpegang pada kata-kata 'Do your best so there will be no regret', I did everything I can. Kejar dosen sana, kejar dosen sini, print disini, print disana, submit ini, submit itu. Literally berlari-larian mengejar deadline dan juga tutupnya loket, baik di jurusan maupun di Annex. Alhamdulillah, masih dikasih kesempatan sama Allah untuk bisa lulus dari kampus ITB lagi. 

So.. this is for you, De. Miss you :)

Allahumagfirlahu warhamhu waafihi wa'fuanhu, Sukendar Asikin. 

2. Kiddos: a Lifetime learning. 

Menjadi orang tua memang tidak mudah. Menjadi orang tua berarti harus siap dengan tantangan dan juga pembelajaran baru, setiap harinya. Mulai dari hamil, bayi, toddler, pra remaja, remaja, bahkan dewasa, setiap anak dengan keunikan karakternya masing-masing tentu menjadi tantangan sendiri bagi setiap orang tua. Ketika hamil banyak dari kita yang merasa tidak nyaman dan ingin cepat-cepat lahiran, tanpa tahu bahwa ketika bayi baru lahir berarti kita akan merasakan tantangan begadang berhari-hari, belum lagi kalau puting lecet, pekerjaan rumah terbengkalai, dan sebagainya sampai ada yang menderita post partum depression. Ketika bayi masih kecil dan harus digendong kemana-mana, seringkali kita ingin agar ia cepat merangkak dan berjalan, tanpa tahu bahwa kita harus mengekor dan mengejarnya kemana-mana. Ketika masih toddler, seringkali kita ingin agar ia cepat bersekolah, tanpa tahu bahwa masa-masa bersekolah ada pula tantangan lainnya, dari mulai rengekan mogok sekolahnya, bullying, ataupun ada kalanya kita rindu karena ternyata rumah menjadi sepi ketika mereka bersekolah. 

kiddos ๐Ÿ’“

Pernah ketika anak pertama masih bayi, membaca buku yang mengisahkan bagaimana menjadi orang tua yang penuh senyum sehingga anak-anak dikelilingi oleh energi positif (maaf, lupa nama bukunya..), dan sejak itu, menjadi cita-citaku untuk menjadi orang tua yang seperti di buku itu walaupun TANTANGANnya luar biasa sekaliiiiiiii (maaf capslock jebol :p) 

Intinya.. tantangan paling besar yang sedang kuhadapi dan Insya Allah akan terus berlanjut sampai meninggal nanti ya ini: menjadi orang tua yang baik, soleh/ah untuk anak-anakku.

Kalau ada kontroversi yang bilang bahwa anak itu investasi atau bukan, ya, aku setuju dengan anak itu adalah investasi. Bukan investasi yang seperti apa, namun investasi untuk ketika kami orangtuanya mati kelak, anak-anak kami dapat menjadi anak-anak yang soleh solehah agar dapat mendoakan kami orang tuanya di akhirat kelak. Terlihat ringan, namun inilah tantangan berat bagi kami orangtuanya agar mereka mau melakukan hal tersebut, dengan penjagaan Allah SWT tentunya. Semoga Allah meridhoi, Aamiin.. (bantu aamiinkan yahh yang membaca ini, terima kasih sebelumnya, hehe..)

*****

Tantangan sebesar atau sekecil apapun, itulah yang membuat diri kita menjadi diri kita sekarang. 

Apakah kita naik kelas atau tidak, tentu itu semua bergantung pada diri kita sendiri. 

Semoga aku, dan kamu yang membaca blog ini dapat naik kelas bersama di tantangan masing-masing. Semangat! :)


Friday, August 18, 2023

wish x consistency.

 Memang keinginan manusia ga ada batasnya, ya. Seperti kata Mamah Uril di penjelasan Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agutus ini: Sky is the limit. 

Tapi sejujurnya, agak bingung juga mau menulis tentang apa untuk tantangan bulan ini. Sepertinya, jiwa-jiwa ambisius yang dulu lekat dengan nama besar ITB sudah menghilang dari pikiranku. Setidaknya, untuk saat ini. Semakin bertambah usia dan dengan rutinitas sebagai Ibu rumah tangga membuatku tidak lagi terlalu bernafsu untuk mengejar pencapaian-pencapaian yang 'wah'. Berhasil mengejar dan dapat diskon 50% dari Sh**pe aja udah seneng. Bandingkan dengan keinginan pada waktu kuliah dulu yang ingin kuliah dan tingga di luar negeri, ingin jadi professor, buat riset ini itu.. Bagai bumi dan langit. 

hiburanku tiap malem. btw postingan ini tidak bersponsor yah huehehe

Kalau ditanya apa keinginanku untuk saat ini, mungkin akan kujawab: konsisten. 

Kenapa 'konsisten'? Ya, sejatinya memiliki sebuah konsistensi untuk sesuatu hal itu merupakan hal yang sulit dan membutuhkan kerja keras. Konsistensi inilah yang ingin kumiliki dalam mengisi kehidupanku sehari-hari saat ini. Namanya juga keinginan, artinya belum tercapai kan.. Dengan kata lain, aku belum berhasil sepenuhnya dalam menerapkan hal-hal berikut ini: 

1. Konsisten dalam hidup (lebih) sehat

Seperti yang Mah Uril singgung di artikel di web MGN, keinginan untuk punya BB ideal dan fisik bugar. Siapa sih ya yang tidak mau seperti itu, hehe.. Apalagi setelah pandemi yang membuat timbangan itu maunya ke kanaaann terus dan susah sekali diajak balik ke kiri. Rasa-rasanya hanya minum air putih saja sudah jadi daging. Beda betul dengan timbangan anak-anak yang susaah banget diajak ke kanannya. *Mamah curcol * Apalagi kalau lihat foto-foto nostalgia sewaktu kuliah, auto bersenandung 'Bajuku dulu.. tak begini..~~~'

On a more serious note, trigger utama kenapa ingin hidup lebih sehat adalah: beberapa suami atau saudara dari teman-teman baikku terkena kanker. Sudah tahu dari dulu bahwa kanker itu ganas dan menyeramkan, namun baru benar-benar merasa tersentil ketika melihat orang-orang terdekat struggle dan berjuang melawan itu. Imaji kanker itu sebagian besar diderita oleh orang yang sudah berumur senja pun runtuh karena teman-teman yang divonis menderita kanker itu sepantaran hanya terpaut beberapa tahun saja. 

Jadi target kecilnya sekarang sih hanya berusaha untuk makan lebih sehat.. lebih sadar dalam makan minyak (kurangi gorengan mylufff).. Sulit, apalagi buatku yang tipenya stress-eater, hehe.. Dan perbanyak olahraga (i'm such a lazy ass btw).. Bisa joging 2km ga berhenti pakai pace yang kayak jalan kaki aja udah pencapaian, hehe.. Syukur-syukur bisa ikut 10k tahun depan (mulai ambisius) huehehehe..

my very very first 5k run! 
there is always a first time in everything.
walaupun pace seadanya tapi ku tetap senangggg dengan pencapaian ini, Alhamdulillah

2. Konsisten dalam menulis

Menulis baik pakai tulisan tangan maupun menulis di blog atau media lain sebetulnya adalah salah satu bentuk atau caraku untuk untuk self-healing. Pernah ikut dalam suatu seminar/acara parenting di sekolah anakku dan salah satu yang kuingat adalah: di umur 30-40an sepertiku, salah satu yang dibutuhkan adalah untuk produktif. Waktu itu kupikir, pantas saja aku uring-uringan semenjak hanya menjadi full IRT. Ternyata, kebutuhan untuk bersifat produktif  itu kurang terpenuhi. Merasa kurang bermanfaat bagi orang banyak, apalgi dengan title 'lulusan ITB' yang kadang-kadang jadi terasa berat dipundak. Makanya, lewat menulis tulisan yang bermanfaatlah rasanya diriku lebih merasa produktif dan mudah-mudahan dapat memberikan manfaat bagi orang yang membaca tulisan-tulisanku, baik itu di blogpost, Instagram, ataupun media lainnya. 

Senang sekali bisa bergabung menjadi salah satu author dan editor di ebook ini. 
Looking forward to another ebook project!
Yang belum pernah baca bisa baca disini yaa..

Menulis gratitude journey juga disebut-sebut sebagai salah satu cara healing yang bisa mendekatkan kita kepada yang Kuasa. Memetik dari Al Quran surah Ibrahim ayat 7 yang artinya '..Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu..' 


Kedua konsistensi inilah yang paling ingin kulakukan, paling tidak dalam waktu dekat ini. Tentu saja ada lebih banyak konsistensi yang ingin kucapai, misalnya: konsisten untuk tidak selalu marah-marah ke anak-anak.. konsisten untuk tetap sabar dan selalu tersenyum.. dsb dsb dsb.. banyaaaakk... once again, sky is the limit kan?? hehehe

Kata orang mah sebaiknya kalau kita punya keinginan sebaiknya tidak diberi tahu ke orang-orang supaya terhindar dari ain.. Maka dari itu, untuk yang membaca blogpostku ini dan juga blogpost Tantangan MGN bulan ini lainnya, mari kita doakan yang baik-baik semoga keinginan para mamah ini dapat terkabul Aamiin aamiin ya Rabb :)

Semangattt Mamah semuaaa, semoga kita bisa berjuang bersama untuk mencapai keinginan kita masing-masing yaa! ๐Ÿ’ช


Tuesday, July 18, 2023

Triple B: Bandung, Balikpapan, Bekasi

Jika membicarakan tentang daerah asal, ketiga kota yang kebetulan berinisial sama yaitu huruf B menjadi kota yang masing-masing menjadi 'Rumah' untuk setiap fasa kehidupanku.

Ketiga kota ini sama-sama penting, sama-sama nostalgic, sama-sama mempunyai cerita. 

****

Bandung

Kota kembang ini adalah awal mula kehidupanku sebagai manusia. Ya, aku lahir di Bandung, kota yang berhawa sejuk di ketinggian sekitar 700 mdpl. Yang menjadi memori masa kecilku yang selalu terkenang adalah kota ini menjadi tujuan ketika mudik Lebaran. "Jangan lupa bawa sweater," ujar mama kepadaku setiap kali kami akan berangkat mudik naik mobil melewati jalur Puncak. Aku sewaktu kecil sangat gembira dan tak sabar ingin bertemu dan berkumpul dengan sepupu-sepupu yang jumlahnya sangat banyak itu. Maklum, keluarga mamaku keluarga besar dengan 11 orang kakak/adik. Persis seperti yang ada di meme atau gambar yang banyak dibagikan ketika menjelang lebaran, dimana di rumah Nenek kasur-kasur berjajar di ruang tengah dan kami tidur disana beramai-ramai. Ketika selesai dari shalat Ied, tradisi bersalam-salaman membuat 'ular naga' yang panjangnya bukan kepalang.  Paling asyik kalau sudah tiba waktunya bagi-bagi uang lebaran, para persepupuan ini akan mengantri dari yang paling muda sampai paling tua. Wah, berasa jadi orang kaya mendadak! Dengan dompet tebal penuh uang baru, kami para sepupu ini suka berjalan-jalan naik angkot Cisitu-Tegallega ke Cihampelas sambil melihat patung superhero di sepanjang jalan ini sebelum kami ganti angkot ke BIP atau ke Kings. Seru sekali dan jadi kenangan masa kecil yang sangat menyenangkan :)

Bandung mulai menjadi kota tempat tinggal dan bukan sekedar tempat mudik pada tahun 2005, ketika kumasuki dunia perkuliahan di kampus gajah tercinta. Walaupun aku sering sekali datang ke Bandung, tapi rasanya sangat berbeda dengan ketika tinggal di tempat kos bersama dengan teman-teman satu SMA yang sama-sama masuk ITB. Masih teringat bagaimana rasa dinginnya Bandung ketika pertama kali masuk kampus untuk mengikuti OSKM, bercampur antara hawa Bandung pagi hari yang memang dingin dan juga tatapan dingin para kakak tingkat. Bandung yang penuh warna, tempat belajar untuk mandiri dan bertahan hidup. Tempat untuk berteman dengan banyak orang dan banyak latar, dan juga bermain,berjalan-jalan dan berpetualang dengan teman-teman di kampus. Maklum, sewaktu SMA cuma kenal sekolah-tempat les-rumah :p

Di kota ini pula lah aku memulai kehidupanku dalam berumah tangga 11 tahun yang lalu. Pak suami -yang seangkatan dan sejurusan- kebetulan orang Jawa yang tinggal dan besar di Bandung. Keluarga besarku pun banyak yang tinggal di Bandung sehingga kami putuskan untuk menikah dan resepsi di Bandung. 'Rumah' pertama kami berada di kota ini. Rumah kontrakan sederhana yang menjadi saksi LDM bertahun-tahun, haha. Rumah ini juga menjadi tempat kami pulang bersama dengan Kakak yang baru lahir 8 tahun lalu. Walaupun sekarang rumah tersebut sudah dirobohkan, tapi kenangannya tetap di hati.

***

Balikpapan

Semenjak Pak suami pulang dari Perancis dan mulai bekerja di kota minyak ini sekitar tahun 2013, kami memulai LDM domestik selama hampir 5 tahun. Lumayan, beda waktunya hanya 1 jam dengan di Bandung ataupun Jakarta. Di kota ini kami mulai dari Nol -seperti slogan sewaktu sehabis mengisi bensin- mulai dari tinggal di tempat kos-mengontrak-sampai alhamdulillah tinggal di 'Rumah' pertama kami sendiri.

Balikpapan kota beriman merupakan kota yang sangat nyaman untuk ditinggali. Kebanyakan warga yang tinggal di Balikpapan adalah warga perantau yang pindah ke kota ini karena bekerja. Kota ini sendiri tidak terlalu besar, namun cukup lengkap untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Memang mall yang ada di Balikpapan tidak sebanyak seperti di Jakarta ataupun Bandung, namun seperti kebanyakan kota pesisir lainnya, para warga banyak yang memilih untuk menghabiskan akhir pekan di pantai-pantai seperti Pantai Patra, Kemala, Batakan dan Lamaru, atau di lapangan Merdeka yang selalu ramai.  Bagi keluarga kami sendiri, tinggal di Balikpapan sungguh less-stress dibanding dengan kehidupan di Bandung ataupun Jakarta, dimana lalu lintas tidak sepadat itu dan juga letak antar lokasinya yang tidak jauh. Yang pernah tinggal di Balikpapan pasti merasakan bagaimana nyamannya kota ini dan akan terkesan dengan kota yang jalan-jalannya sangat bersih. 

IKN atau ibukota negara baru juga rencananya akan ditempatkan di Samboja, yang otomatis Balikpapan akan menjadi kota atau gerbang masuk untuk menuju IKN. Seiring dengan itu, pembangunan di kota Balikpapan pun semakin maju pesat dan semakin lengkap. Jangan salah dengan pemikiran 'Kalimantan itu cuma hutan', asal tahu saja bahwa biaya hidup di kota Balikpapan itu mahal, hampir setara Jakarta (atau bahkan lebih mahal ya?) yang bahkan diriku terkaget-kaget sewaktu pertama kali ke Balikpapan dan berbelanja sayuran. Pernah yang kuingat, satu ikat sayuran hijau mencapai harga 20ribu di pasar.

Walaupun Balikpapan memang merupakan kota perantauan kami, tapi bagi kami Balikpapan selalu menjadi rumah bagi kami, apalagi bagi si Adek yang lahir di kota ini. Si Anak Kalimantan, hehe. 

****

Bekasi

Akhirnya, kembalilah aku ke kota ini. Walaupun Bandung adalah kota kelahiranku, tapi di Bekasi ini lah kuhabiskan masa kecil sampai SMA di rumah orang tuaku. Walaupun aku lebih suka bilang bahwa rumahku di Jakarta (jika yang bertanya adalah orang dari luar jakarta) atau Cibubur (jika yang bertanya adalah orang Jakarta), tapi secara administratif, rumah orang tua masuk dalam Kota Bekasi. Setelah kutinggalkan untuk kuliah 2005 silam, tahun 2021 kami kembali ke kota ini. 

'Rumah' yang sekarang menjadi rumah kami berada persis di seberang rumah orang tuaku. Walaupun suasana di Cibubur sudah jauh berbeda dengan banyaknya pembangunan dan perkembangan di sana-sini, rasanya komplek rumahku ini masih sama suasananya dengan ketika aku masih kecil dulu. Alhamdulillah yang dulu kulakukan sekarang dilakukan oleh anak-anakku, yaitu bermain bersama dengan teman-teman di jalanan depan rumah. 

****

Inilah ceritaku tentang daerah asalku untuk Tantangan Blogging Mamah Gajak Ngeblog bulan Juli ini. Semua yang terjadi di kota-kota tersebut turut serta membangun diri menjadi diriku sekarang ini. Semua menjadi 'Rumah' bagiku dan keluargaku, dengan perannya masing-masing :)



 

Friday, June 2, 2023

Komikku Duniaku

Bicara tentang masa kecil, tentu ada banyak hal yang dapat diceritakan. Ketika beban hidup masih berupa pe-er atau ulangan matematika esok hari, hehe. Ingatan masa kecil kebanyakan orang akan membekas dan sedikit banyak akan menjadikan diri kita sekarang. Tema tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini dari mamah Sistha sukses membuat nostalgia. Kuputuskan untuk menulis tentang sesuatu yang sangat akrab denganku dan menjadi keseharianku sewaktu kecil: Komik



Hiburan untuk anak-anak di generasi 90an itu terbatas di komik, menonton kartun di televisi, atau bermain bersama teman-teman di lapangan. Tidak bisa dibandingkan seperti sekarang dimana internet, youtube dan game online yang sangat mudah diakses, playground yang bertebaran dimana-mana, dan sebagainya. Uang jajan pun terbatas, sehingga harus pintar-pintar menyisihkan uang untuk membeli mainan atau komik. Waktu SD dahulu, komik hanya seharga 5500 rupiah, kemudian naik menjadi harga 6500 sewaktu SMP, naik lagi menjadi 7500, 8500 dan seterusnya.. Sampai sekarang, harga komik seharga 25.000 keatas. Jadi gampang saja sebetulnya kalau mau melihat inflasi, lihat saja harga buku komik yang semakin naik,hehe

Komik sewaktu kecil dulu didominasi oleh komik dari penulis Jepang, yang disebut Manga dan penulis Mangaka, terbitan dari Elex Media Komputindo. Komik yang paling familiar dan hampir semua orang di Indonesia tahu, tentu saja Doraemon. Bahkan, menonton kartun Doraemon di RCTI di hari minggu pukul 08.00 WIB pagi sudah menjadi 'keharusan' tersendiri bagi anak-anak gen90an. Komik dan kartun Doraemon ini membuat imajinasi sewaktu kecil menjadi sangat berkembang dan menginspirasi untuk membuat ciptaan-ciptaan seperti alat-alat Doraemon. Well, yang dibutuhkan seorang anak itu adalah imajinasi yang luas tanpa batas, bukan?

sumber

Komik lain yang populer di gen90an adalah komik serial cantik. Komik-komik ini adalah komik lepasan (satuan) yang berkisah tentang percintaan yang ringan. Masih cocok lah dibaca untuk anak SD SMP yang mulai mengenal cinta monyet. Komik serial cantik kesukaanku berjudul 'My Best Rival is My Best Friend'.

sumber


Salah satu komik serian yang paling membekas di hati adalah komik Harlem Beat. Komik ini mengisahkan tentang orang-orang yang tergabung di klub basket di SMA. Cerita tentang persahabatan dan kerja keras sangat tergambarkan oleh tokoh-tokoh disini. Kita juga jadi tahu banyak hal tentang basket. Ratingnya kuberi 9.5/10. 

sumber

Saking sukanya dengan cerita di Harlem Beat, aku menjadi penggemar berat penulisnya yaitu Yuriko nishiyama dan akhirnya membaca serial lainnya terbitan beliau yaitu Sylphid. Hari terbitan komik baik Harlem Beat mupun Sylphid menjadi hari yang selalu ditunggu, dan dengan hati riang selalu bolak-balik ke Indomaret yang dulu juga menjual komik dan majalah, menunggu komik tersebut dipasang di rak. 

sumber

Serial tokoh dunia juga menjadi favorit di kala kecil. Dengan membaca komik ini, kita juga jadi bisa belajar sejarah dan biografi dari penemu-penemu yang termahsyur di dunia. Buku ini sepertinya sudah tidak diproduksi lagi, padahal menurutku buku ini masih cocok untuk dijadikan komik pembelajaran bagi anak-anak jaman sekarang.

sumber


Komik masa kecil yang sampai sekarang masih terbit adalah Hai, Miiko. Komik yang berisi cerita ringan tentang kehidupan sehari-hari ini sangat kusukai, mulai dari penggambarannya, tokoh-tokohnya, ceritanya, maupun lelucon-leluconnya. Komik Hai Miiko juga aku perkenalkan ke anakku karena cenderung 'aman' untuk anak SD. Pssst, Miiko sekarang sudah SMP loh!



Sayangnya sekarang komik-komik koleksi sewaktu masa kecil sudah tidak ada, karena dihibahkan dan karena 'dibereskan' sewaktu mulai kuliah dan pindah dari rumah. Namun, ternyata banyak komik-komik jadul yang dijual di toko buku bekas, jadi ingin mengkoleksi lagi buku-buku komik yang dibaca sewaktu jaman dulu, hehe. Kalau kalian, suka baca komik apa sewaktu kecil dahulu? 


Wednesday, May 31, 2023

DIY wall moulding ala Bapak and kiddos

Beberapa pekan lalu, paksuami dan anak-anak berDIY memasang wall moulding untuk kamar tidur kami. Sebetulnya ide untuk memasang moulding ini sudah ada dari semenjak renovasi rumah (sekitar 1,5 tahun lalu) dan baru terealisasi sekarang, hehe.. 

Wall moulding atau yang dikenal juga dengan wall panel atau batten wall akan membuat suasana ruangan menjadi lebih indah dan mewah. Melakukan wall moulding sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit, dan dapat menjadi kegiatan dalam membangun bounding dengan keluarga. Untuk budget pun dapat menyesuaikan dengan kebutuhan atau desain moulding itu sendiri. Bahan-bahan yang dibutuhkan hanya wall panel, cat tembok, kuas dan lem.

Yuk, ikutan makeover rumah dengan DIY wall moulding! 

Langkah-langkah pengerjaannya seperti ini:

1. Tentukan desain dari wall moulding yang diinginkan

Ada beberapa model yang banyak digunakan orang. Model yang dipilih akan menentukan banyaknya penggunaan wall panel dan tentunya akan berdampak langsung pada besar biaya yang akan dikeluarkan. Untuk referensi, kita tinggal cari di pinterest ataupun di google dengan kata kunci 'wall moulding' atau 'wall panel' atau 'batten wall'. 

contoh ide wall moulding di pinterest 

2. Hitung penggunaan wall panel

Setelah menentukan desain, hitung panjang dari dinding yang akan dipasang. Kemudian, bagi panjang dinding tersebut dengan ukuran wall panelnya. Ukuran dari wall panel ini bermacam-macam lebar, tebal dan tingginya di banyak marketplace, tinggal disesuaikan sesuai selera. 

ide wall panel yang akan dipakai di kamar

Sebagai contoh, untuk DIY wallpanel setengah dari tinggi ruangan, kami menggunakan wall panel ukuran 5 x 122cm dengan ketebalan 6mm. Jika lebar dinding ruangan adalah 3,5m, maka wall panel yang dibutuhkan untuk desain panel rapat seperti di contoh adalah sekitar 18 panel.

contoh desain wall panel lain

Contoh untuk desain wall panel lain adalah seperti gambar diatas. Kita dapat menentukan dahulu, dindingnya akan dibagi ke berapa bagian wall panel. Di contoh atas tersebut untuk lebar dinding 3m dan ingin dibagi menjadi 5 bagian, berarti kita memerlukan minimal 7 panel dengan jarak masing-masing 38cm. 

percobaan dalam mendesain wall panel 

Wall panel ini sendiri dapat dibeli di marketplace, baik yang sudah berupa potongan maupun yang masih lembaran besar. Jika ingin praktis dan tidak punya alat pemotong dirumah sih, beli saja yang sudah potongan, jadi tinggal pasang saja. Harga untuk wall panel mulai dari Rp 10.000 per lembar, bergantung dari lebar, panjang dan juga ketebalannya. 

wall panel yang baru dikirim dari market place

3. Tempel ke dinding sesuai desain. 

Setelah wall panel dipotong sesuai dengan kebutuhan, saatnya menempel panel tersebut di dinding. Untuk memudahkan, bisa juga dibantu dengan menempelkan lakban kertas terlebih dahulu sebagai patokan (terutama untuk desain yang memiliki jarak besar antar panelnya atau untuk melihat hasil pre-desain pada dinding yang akan ditempel). Untuk yang memilih desain rapat, kita juga dapat menggunakan lebar panel sebagai jarak tempel antar panel. Contoh, untuk kamar kami menggunakan jarak 2 lebar panel (2 x 6mm) sebagai pemisah antar panel. 


Lem yang digunakan adalah lem putih PVAc. Ketika memberikan lem, usahakan lemnya tidak berlebihan sehingga akan membuat bleber ke pinggiran panel. 

pemberian lem pada panel

4. Berikan lis pada bagian atasnya.

Agar lebih rapi, berikan lis pada bagian atas dari wall panel. Bentuk lis bisa berbeda bentuk atau sama dengan wall panelnya, seperti contoh diatas. Untuk tambahan aksesori, bisa juga diselipkan lampu LED meteran di belakang lis.

lis yang kami pakai, berbentuk gelombang.
sedangkan wall panelnya berbentuk lurus. 

5. Cat sesuai keinginan

Untuk catnya, kita pakai cat tembok (bukan cat kayu), beli di Mitra 10. Untuk lebar dinding 3,5m, kaleng 5 kilo ini masih bersisa lumayan banyak. Untuk step pengecatannya, sebetulnya kami mengecat panelnya terlebih dahulu sebelum ditempel ke tembok. Namun kami sarankan untuk mengecatnya setelah ditempel saja karena jika dicat terlebih dahulu maka akan kurang rapi/double cat karena harus mengecat dinding/jarak antar panelnya juga. 



Hasil akhirnyaaaaa:





Alhamdulillah, happy sekalii dengan hasilnya. Anak-anak juga senang karena mereka dapat kesempatan untuk membuat sesuatu. 

Mumpung banyak long weekend dan juga liburan sekolah, siapa tau blogpost ini bisa menginspirasi kegiatan untuk mengisi liburan di rumah, ya :) 
Selamat mencoba!

Tuesday, May 16, 2023

Yang hijau di Kebun Raya Bogor

Untuk warga Jabodetabek khususnya warga Bogor, sepertinya tempat healing yang satu ini sudah sangat dikenal. Bagaimana tidak, tempatnya ada tepat ditengah-tengah kota dengan akses angkutan umum yang cukup mudah. Dengan deretan pohon-pohon hijau dan juga lapangan rumput yang luas, tentu saja hal ini memanjakan mata ditengah keseharian kita yang memandang hutan beton. 

lapangan luasss

Kebun Raya Bogor mempunyai luas sebesar 87 hektar dengan keliling luar hampir mencapai 4 km kalau kata paksuami yang suka jogging, dengan beberapa area atau kebun tematis di dalamnya. Beberapa area yang menjadi ikon adalah lapangan yang berada di bawah Raasaa (restoran di dalam Kebun Raya), Bunga Rafflesia Arnoldi (sayangnya kita ga kesana kemarin karena anak-anak sudah terlalu lelah), herborium, taman meksiko, taman air, kolam teratai, dan lain sebagainya. 

taman teratai

taman meksiko, penuh kaktus besar-besar

salah satu lapangan rumput lagi dekat kolam,
anak-anak senang bermain gelembung sabun disini

Karena area Kebun Raya yang luas dan kami tidak punya persiapan (baca: membawa sepeda untuk anak-anak), akhirnya kami memutuskan untuk menyewa sepeda listrik. Sepeda listrik bisa untuk 2 orang berbonceng, dan karena banyak peminatnya, akhirnya hanya kebagian 1 sepeda. Yang satu sepeda menyewa sepeda mountain bike biasa. Ada juga penyewaan mobil golf. Tempat penyewaannya ada beberapa tempat dan biasanya berada di dekat gerbang. Karena kita perlu meninggalkan ktp maka pengembalian sepeda yang dipinjam juga harus ditempat asal penyewaannya. Menyewa sepeda listrik menurut kami sangat berguna karena kami (yang bepergian dengan anak-anak kecil) bisa menjelajahi banyak tempat di dalam Kebun Raya tanpa rengekan bocah minta gendong, hehe..

pricelist penyewaan sepeda per jam

sepeda listrik yang kami sewa

Untuk masuk ke kebun Raya bisa melewati beberapa gerbang, dengan harga sekitar 26.500 (kata website, maaf aku lupa harga tiketnya kemarin hehe). Karena sewaktu kita berkunjung bertepatan dengan hari libur nasional, sehingga tempat parkir di dalamnya penuh dan hanya bisa parkir di dalam jika kita membeli Voucher makan di raasaa (jadi harga tiket parkir 150ribu untuk biaya parkir dan voucher makan 100ribu). Kurang tahu apakah kalau hari-hari biasa atau weekend biasa akan berlaku ketentuan seperti itu juga atau tidak. Saran: lebih baik untuk mencari parkir di luar seperti di dekat kantor pos, atau parkir di tempat parkir mall botani square dan jalan kaki sedikit menuju pintu 3 atau 1. Karena harganya lumayan sekali untuk parkir di dalam dengan seharga itu. Kalau ada yang punya saran dimana parkirnya atau punya pengalaman parkir lain, share di komentar ya :)

Di dalam Kebun Raya ada mushalla dan juga toilet yang cukup bersih. Ada juga beberapa spot kios yang menjual aneka mainan dan juga jajanan. Waktu itu, ada banyak tenda bazaar makanan, tapi tidak tahu apakah tenda bazar itu permanen atau khusus sabtu minggu atau khusus sewaktu libur lebaran kemarin saja. Tapi,banyak juga yang membawa bekal piknik dari rumah. Sepertinya seru sekali melakukan piknik dibawah bayangan daun-daun di bawah pohon, namun karena (lagi-lagi) kurang persiapan dari rumah, jadi kami tidak membawa makanan apa-apa #timjajan ๐Ÿ˜Untuk restoran raasaa sendiri, aku merasa harga disana cukup pricey, tapi karena sudah terlanjur punya voucher jadi kita tetap kesana.. untuk minuman sekitar 30-50ribu belum pajak, untuk harga makanannya lebih dari itu hehe. Kalau mau sekalian kuliner, saranku untuk coba kuliner Bogor yang ada di kawasan suryakencana. Soto sulungnya enak, bakso beningnya juga enak, bir pletok dingin segar, rata-rata semua terlihat enak hehehe

Tips lagi: jangan lupa bawa tripod ya! Banyak spot foto kece disini dan bahkan memang Kebun Raya Bogor cukup populer untuk melakukan pemotretan mulai dari prewed hingga foto angkatan sekolah.

Seru sekali bermain sekaligus berolahraga pagi di Kebun Raya Bogor. Kapan-kapan mau main kesana lagi ah sekalian bawa makanan dan perlengkapan piknik ๐Ÿ’š










Friday, May 5, 2023

Kereta Gantung dan Keong Emas di TMII

Sewaktu long weekend setelah Idul Fitri kemarin, rasanya sayang kalau hanya di rumah saja. Mumpung Bapak libur, jadi bisa jalan-jalan yang agak jauh sedikit dari rumah. Maklum, aku orang yang tipenya magerrr banget kalau harus nyupir jauh apalagi macet-macetan, hehe. 

Pilhan untuk jalan-jalan hari itu jatuh ke TMII. Awal rencananya sih, ingin mengajak anak-anak ke museum IPTEK yang berada di dalam kawasan Taman Mini. Seingatku dulu ketika berkunjung kesana sewaktu sekolah, museum itu sangat menyenangkan dengan banyak percobaan atau eksperimen yang bisa kita mainkan. Aku ingin mengajak anak-anakku untuk merasakan kegembiraan yang sama dalam bereksperimen di dalam museum. Dan lagi, tiket untuk masuk museum IPTEK di websitenya tergolong murah, hanya Rp 27.500 per orang. 

Kami berangkat agak siang dengan tujuan makan siang dulu di sekitar kawasan TMII, tepatnya di Green Terrace. Letaknya masih di luar TMII ya, jadi jangan masuk dulu ke jalan utama gerbang Taman mini. Baru setelah melewati jalan utama masuk Taman Mini, ada kawasan Green Terrace yang banyak pilihan resto makanannya. Kalau di dalam kawasan Taman mini itu sendiri memang banyak juga restoran, biasanya CFC ataupun kedai-kedai. Alasan lain kenapa memilih berangkat rada siang adalah karena belakangan ini Jakarta panasssss sekali dan baru mendung sekitar jam 1 siang, jadi lebih sedikit bearable panasnya hehe

Untuk masuk ke dalam kawasan TMII sendiri dikenakan biaya Rp. 25.000 per orang, dan untuk parkir mobil Rp 25.000 juga. Tiketnya bisa dibeli dulu lewat online (ada linknya di ig tmii) maupun dibeli di gerbangnya langsung seperti kami kemarin. Cashless ya, bisa menggunakan Qris ataupun jenis pembayaran lainnya. Parkir mobilnya hanya bisa ditempatkan di area depan sekitar Tugu Pancasila. Ada juga gedung parkir di area bekas Snowbay Waterpark. 

Benar saja perkiraan kami, ketika kami sampai di TMII langitnya sudah lumayan berkurang panasnya dan sedikit mendung. Karena kami parkir di dekat stasiun Kereta Gantung, kami memutuskan untuk mencoba naik kereta gantung dahulu. Fun fact: kereta gantung ini sudah beroperasi dari tahun 1975 loh! Stasiun kereta gantung ini ada 4 yang terbagi menjadi 2 lintasan yang tidak terhubung, yaitu di sebelah kanan dan kiri Danau Miniatur Indonesia. Masing-masing lintasan mempunyai 2 stasiun, di kawasan depan dan kawasan belakang. Kita bisa menaikinya dari stasiun mana saja. Harga tiketnya sebesar Rp 50.000 per orang di loket stasiun untuk 1 rute bolak balik (naik dan turun di stasiun yang sama).



Perlu diingat, operasional dari kereta gantung ini sangat dipengaruhi oleh cuaca, jadi kalau tiba-tiba turun hujan atau angin kencang, penumpang tidak boleh naik dulu ke dalam kereta gantungnya. Seperti kemarin sewaktu kami mengantri, perubahan cuacanya mendadak sekali dari yang awalnya masih terang menjadi hujan deras dan angin kencang yang tiba-tiba disertai petir-petir. Dalam hatiku, untuung saja kita masih antri dan belum naik kereta gantung, parno sekali sepertinya kalau ada di dalam kereta saat hujan sederas itu ๐Ÿ˜†Jika sudah terlanjur beli tiket dan tidak mau menunggu hujan, jangan khawatir, kita bisa mengembalikan tiket tersebut tanpa biaya di loket. Kami menunggu hujan sekitar 15 menit dan Alhamdulillah hujan sudah berhenti hanya tersisa rintik kecil saja. And lucky us, karena banyak yang refund tiket jadinya antriannya hanya tinggal beberapa orang di depan kami. 

Anak-anak tentu saja senang walaupun awalnya deg-degan sewaktu menaiki kereta gantung ini. Total naik wahana ini hanya sekitar 15 menit.  Aku rekomendasikan untuk mengajak anak-anak kalian untuk naik wahana ini walaupun agak pricey, tapi siapa tau bisa jadi core memory yang menyenangkan. ๐Ÿ’™

Setelah naik kereta gantung, kita mencari tempat untuk naik Angkutan keliling untuk pergi ke museum Iptek. Karena lokasi dari museum Iptek yang agak masuk ke dalam dan tentunya lumayan untuk anak-anak berjalan kaki sejauh itu apalagi lumayan banget untuk ortunya kalau harus gendong anak sejauh itu,  maka mau tidak mau kita harus naik Angling. Sebetulnya sudah aware dengan banyaknya komplain mengenai angling ini, ditambah ini sedang musim libur lebaran, tapiii setelah melihat kenyataannya ya rasanya kaget juga melihat antrian naik Angling yang sangat panjang ๐Ÿ˜ Akhirnya kami mundur teratur dan memutuskan untuk tidak jadi ke museum Iptek hari itu. 

Hari masih sore sekitar jam 3 dan tidak mau rugi dong yaa sudah bayar masuk TMII tapi masa hanya naik kereta gantung aja?? Akhirnya kita putuskan untuk mencoba melihat jadwal film di Keong Emas. Kebetulan paksu belum pernah masuk keong emas dan akupun hanya sekali, yang kuingat adalah layarnya besaaaaaar sekali. Aku jadi bersemangat ini mengajak si Kakak yang lagi senang-senangnya menonton bioskop untuk mencoba menonton di teater Imax ini. Lucunyaa.. paksu mencari jadwal pemutaran film ini di website dan aplikasi XXI, hahaha ga akan ketemu atuuuuh ๐Ÿ˜‚ 

Teater Keong Emas

Area lobby 

Layar di dalam teaternya. Superrr besar!

Pemutaran film dilakukan tiap jam dan untuk pembelian tiketnya loket dibuka setengah jam sebelumnya. Untuk tiketnya ini juga tidak ada nomer kursinya, jadi bangkunya acak dan tempatnya siapa cepat dia dapat tempat enak (ditengah-tengah). Tapi jangan khawatir juga karena tentunya tiket yang dijual tidak akan melebihi kapasitas, malah sayangnya cenderung sepi penontonnya. Untuk harga tiketnya sendiri sebesar Rp 50.000 per orang, bisa tunai maupun cashless. 

Struk tiket. Nanti akan di scan 4x (aku beli untuk 4 orang) sewaktu mau masuk teater.

Jadwal pemutaran film di Teater Keong Emas

Ketika kami datang, ternyata hanya tinggal 1x pemutaran yaitu film yang berjudul Forces of Nature. Oiya, film-film yang ada diputar di Teater Keong Emas itu sendiri memang tujuannya untuk edukasi ya, jadi bukan seperti film bioskop pada umumnya. Film yang kami tonton berkisah tentang gejala-gejala alam seperti gunung berapi, gempa, tornado dengan format seperti film dokumenter khas NatGeo. Kalau aku sih, suka dengan film sejenis itu. Namun untuk anak-anak kecil, mungkin ada yang tertarik namun ada juga yang masih takut karena suara yang keras, ruangan yang gelap dan layar atau gambar yang super besar. Materi filmnya juga mungkin agak berat untuk anak TK atau SD awal, tapi yang jelas sarat dengan ilmu dan informasi dan juga visual yang berbeda dari menonton lewat layar tv di rumah. 

Kami senang sekali dengan kunjungan kami ke TMII kemarin. Walaupun singkat dan ternyata kalau dihitung-hitungnya habisnya lumayan banyak yaaah tapi Alhamdulillah kami puas. Dan jadi kepikiran untuk lebih prepare kalau ke Taman Mini, bawa sepeda anak-anak contohnya untuk keliling-keliling di dalam Taman Mini nya, Insya Allah.  ๐Ÿ’š

Thursday, May 4, 2023

mie mie dan mie lagi~~

Kalau membicarakan tentang makanan kesukaan, hampir semua orang pasti punya satu atau lebih makanan seperti yang sudah dijelaskan mamah admin MGN di blog Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini. Apalagi kalau tipikalnya stress-eater seperti saya, pasti punya comfort food yang akan memperbaiki suasana hati. 



Bagi saya, olahan mie menjadi salah satu makanan kesukaan yang sering hadir di meja makan. Olahan mie yang cenderung lebih ringan dibandingkan dengan memakan nasi dan lauk, apalagi kalau dimakan ketika masih baru matang dan panas, akan membuat badan dan juga perasaan saya menjadi lebih segar. Mulai dari mie instan, yamien, ramen, udon, soba, pasta (spagetti atau fettucine) dan masih banyak jenis lainnya. Saking sukanya dengan mie, pernah juga sampai menjadi inspirasi sewaktu membuat cerita fiksi berlatar ITB di tantangan bulan MGN, haha

Untuk mie instan, 'Indomie, seleraku..' memang juara, sih.. dari mulai mie instan polos sampai ke mie kuah aneka rasa yang ditopping sedemikian rupa sudah tak terhitung varian yang pernah kucoba. Walaupun kebanyakan makan mie instan itu memang gak sehat (sepertinya semua orang tahu itu tapi masih banyak juga yang sering memakannya) tapi aroma ketika ada orang yang memasak mie instan itu sungguh menggoda~~ haha.. 

Jadi ingat, sewaktu SMA karena hampir setiap hari jajan mie instan di kantin, aku pernah 'distrap' sama teman-teman sekelas. Mie yang sudah terlanjur kubeli dimakan sama mereka, dan ga boleh jajan mie selama seminggu! ๐Ÿ˜‚ Kalau sekarang sih.. makan mie instan karena kabita kalau sedang nonton drakor yang biasanya mereka makan ramyun, lihat kuahnya yang merah itu duhhh.. bikin langsung ingin nyalain kompor.

Olahan mie lain yang jadi kenangan dan jadi kesukaan sampai sekarang adalah mie ayam abang-abang gerobak, Dulu suka beli sewaktu jeda antara selesai kelas dan les pas SD di abang gerobak yang mangkal di depan sekolah. Harganya 1500 kalau tidak salah, cukup mahal untuk anak SD pada waktu itu. Pakai saos merah yang katanya dibuat dari cabe dan tomat kematengan (mau bilang busuk tapi kok yo ga tega... hahaha) tapii justru itulah yang buat tambah nikmat, beda kalau pakai saos kemasan botolan yang biasa ada di mini market. Sampai sekarang ketika harganya sudah 10x lipat juga tetap saja jenis mie ayam ini sering kubeli.



Karena keluargaku orang Bandung, jadi aku juga akrab dengan yamien. Kesukaanku adalah yamien manis. Sewaktu aku kecil dan tinggal bersekolah di Jakarta sepertinya disini belum terlalu familiar dengan yamien yang biasanya kuah dan mie nya dipisah. Apalagi dengan istilah yamien manis atau yamien asin. Tapi sekarang hampir semua gerai mie bisa untuk dibuat ala yamien. Yamien kesukaanku? Tentu aja yamien buatan rumah (mamaku) hehehe.. 

Yamien manis ayam jamur buatan mama @catering.alaatty
Yang mau cobain di daerah BSD bisa juga loh pesan di gofoodnya @bluperrycoffe , restonya sepupuku dan resepnya sama, Insya Allah ngeunahhh

Ketika dulu masih suka ikut annual symposium di Jepang, maka olahan udon jadi salah satu makanan kesukaan apalagi kalau dimakan ketika autumn/winter ketika tim kita yang dari negara tropis ini menggigil kedinginan terkena cuaca hampir 0 derajat. Kuah panasnya yang biasanya terbuat dari serpihan ikan dan sayuran jadi alternatif makanan karena kalau ramen di jepang biasanya terbuat dari tulang babi dan/atau sapi yang belum tentu sesuai syariat sembelihnya. Jadi ketika Marugame Udon membuka gerainya pertama kali di Indonesia, wahhh saya bahagia sekali. Masih ingat rasanya ketika pertama kali mencoba niku udonnya, terharu sekali karena rasa dan cara penyajiannya sangat mirip dengan yang di dekat kampus Kyudai ๐Ÿ™† 



Demikian juga waktu pertama kali mencoba ramen di Seirock-ya, ya ampun sampai heran kenapa bisa ada kuah seenak ituuuuu *lebay* *tapi beneran takjub*. Menu kesukaan tentu saja Tori Paitan Ekstrim Ramen.  Walaupun harganya yang lumayan mahal tapi menurutku worth to buy. Aku ga usah komentar banyak deh tentang ramen ini, silakan langsung aja ke gerai terdekat dan coba sendiri ๐Ÿ˜†

Dan gara-gara ramen ini pula jadi terinspirasi untuk buat ramen instan ala-ala dari resep di instagram. Dengan effort yang minimalis tapi dapat ramen yang lumayan enak hehee.. Silakan kalau ada yang ingin mencoba juga ๐Ÿ˜ 

Mie ramen ala-ala:
Kuah: 1 gelas susu kedelai tawar (jangan yang manis yah!), dipanaskan dengan tambahan 1 sdt minyak wijen, 1/2 sdt chicken stock powder, merica, kecap asin/garam (sesuai selera, tambahkan sedikit demi sedikit sampai asinnya pas). 

Rebus mie telor di air terpisah dan tiriskan, masukkan ke campuran kuah tadi, tambahkan toping telur, sawi, bawang daun dan cabai bubuk. Itadakimasu ๐Ÿ™  



Friday, April 7, 2023

Berburu buku bekas di Blok M Plaza

Kegiatan apa yang suka dilakukan ketika weekend?
Memasuki bulan Ramadhan, kegiatan keluarga kami sewaktu akhir pekan yang biasanya diisi dengan makan di restoran atau mall menjadi tidak bisa dilakukan. Jelas dong ya, kan puasa. Hehe. Kegiatan outdoor pun kami batasi dan biasanya hanya menjelang waktu berbuka, karena kalau dilakukan pagi hari takutnya si kakak akan merong-rong 'hauuuss..hauuuss..' seharian. Tapi rasanya agak gak rela juga kalau memberikan akses ke tv atau komputer seharian. Jadi, ngapain lagi dong ya kita selama weekend?

Karena si kakak suka membaca, jadi setiap bulan kita beri 'jatah' untuk membeli buku pilihannya di toko buku. Masalahnya, buku yang sedang dia senang itu adalah komik berwarna yang 1 buku nya seharga 125ribu, dan habis dibaca dalam 1 jam saja! Boncoss dong yaah kantong kita kalau kita belikan buku-buku ekstra untuk mengisi waktu selama bulan puasa ini, hehe. Akhirnya, terpikir lah untuk membeli buku-buku bekas yang kuperkirakan harganya hanya setengah dari harga aslinya. 

Setelah lebih dahulu browsing dimana toko buku bekas di Jakarta, ternyata ada beberapa tempat untuk pasar buku bekas. Awalnya yang aku tahu ada di pasar senen atau kwitang, karena dulu sekolahku dekat sana. Tapi di kwitang (dulu) pasarnya panas dan di pinggir jalan. Sepertinya kurang nyaman kalau membawa anak-anak kecil. Ada teman juga yang punya langganan toko buku bekas di pasar modern BSD (kalau tidak salah). Hanya saja kalau dari rumahku di cibubur, ke BSD itu seperti melintasi antar kota antar propinsi, jauuhh. Akhirnya, kutemukan pasar buku bekas di Blok M Plaza. Dengan rating yang cukup baik di review google, weekend lalu kami iseng-iseng pergi kesana. 

Kios-kios buku bekasnya terletak di lantai basemen Blok M Plaza. Ada banyak kios-kios bukunya, melebihi yang aku kira. My happy place banget! Disini kita bisa menemukan buku-buku bekas keluaran lama maupun baru. Impor maupun lokal. Ada banyak sekali pilihan novel, buku teks pelajaran, ataupun komik berseri lengkap. Kondisinya juga beragam, rata-rata dari buku-buku ini masih berkondisi baik, hanya kertasnya sudah buram khas buku lama, dan agak berbau apek. Tapi ada juga buku-buku yang kondisinya minus sedikit misalnya sedikit rusak di ujung hardcovernya. Buku-buku bekas ini bisa kita tawar harganya, dan biasanya kalau kita belinya banyak di satu toko tersebut, akan diberikan potongan harga lagi. 

kakak lagi asik milih buku

Tempatnya sendiri nyaman untuk berlama-lama. Bersih dan dingin berAC, seperti mall atau itc pada umumnya. Sewaktu memilih, penjualnya juga memberikan kursi untuk kita agar kita bisa memilih bukunya dengan santai dan sambil duduk, jadi tidak pegal. Saranku, kalau mau kesini mungkin kita bisa putuskan mau beli buku apa, misal mencari genre novel, ensiklopedi, reference book, komik atau buku anak, atau pengarangnya siapa misal mencari Enid Blyton. Karena buku-bukunya kebanyakan ditumpuk vertikal jadi agak susah mencarinya, tapi biasanya penjualnya hapal dengan buku-buku yang mereka jual jadi bisa langsung memberikan kepada kita buku yang kita request





Selain buku bekas, ada juga beberapa kios buku yang menjual buku baru. Namun, saya tidak yakin apakah buku itu memang baru dan original atau bajakan. Harganya memang jauh lebih murah dibandingkan di toko buku seperti Gr***dia, dan penjualnya juga bilang kalau bukunya asli. Ada juga yang menjual buku-buku terbitan Usborne seperti flap booknya dengan harga yang miring hanya 115ribu. Tapi karena saya tidak yakin, akhirnya saya ga jadi beli..
 
Seperti tujuan awal datang kesini, kita fokus untuk membeli buku-buku anak dan komik. Alhamdulillah si kakak happy karena dapat buku komik 'Keluarga Super Irit' kesukaannya. Ibun juga happy karena harganya kurang dari setengah harga aslinya hehee.. Kalau di toko buku besar seharga 125ribu, kemarin dapat seharga 50 ribu. Perbandingan lainnya, komik baru (belum tahu asli atau tidaknya) yang dijual di kios lain itu seharga 85ribu. Kalau untuk harga buku-buku novel impor bekas, dari orang lain yang membeli di kios yang sama sekitar mulai dari 30ribu (setelah ditawar). 

Paketan buku komik warna survival isi paket isi 5 harganya 175rb.. menang banyak :D
 
Karena menyatu dengan mall dan kawasan perbelanjaan, jangan khawatir dengan tempat parkir mobilnya. Blok M Plazanya sendiri tidak terlalu ramai pengunjung jadi nyaman untuk berjalan-jalan juga. So far, kita happy sekali kemarin dan merupakan pengalaman baru juga untuk anak-anak, berbelanja di toko buku bekas. ๐Ÿ˜Š

Siapa disini yang suka beli di pasar buku bekas juga? Yuk kita sharing infonya di kolom komentar!