Wednesday, July 6, 2022

Travel the world with words

Setiap hari, kita pasti berkomunikasi dengan orang lain. Komunikasi tersebut membutuhkan suatu bahasa yang dapat dimengerti satu sama lain. Bayangkan bila kamu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, dan lawan bicaramu menggunakan bahasa Eskimo, mungkin ga akan nyambung yah, hehee..

Di dunia ini, ada lebih dari 7000 bahasa yang digunakan oleh lebih dari 7 miliar orang di muka bumi. Kebayang kan, banyak banget. Ga usah jauh-jauh, di Pulau Jawa ini aja ada banyak bahasa, misal bahasa sunda, bahasa jawa, bahasa betawi.. Bahasa sunda juga ada bahasa sunda halus dan bahasa sunda yang digunakan sehari-hari, bahasa jawa juga begitu. Belum lagi dialek yang digunakan yang mungkin membuat kata yang sama menjadi berbeda pengucapannya. Ya Allah, meni rieut! (hayoo.. yang bukan sunda ngerti ga ama kalimat ini? hihihi)

Bahkan nama negara dalam bahasa aslinya dan yang disebutkan di negara lain berbeda. Contoh: England jadi Inggris dalam bahasa Indonesia.
sumber

Ada 10 bahasa yang paling banyak digunakan di dunia: Bahasa Inggris, Mandarin, Hindi, (yhaa jelas aja, populasi tionghoa dan india salah satu yang paling banyak didunia) dannn singkat kata, peringkat ke 10 ternyata diduduki oleh bahasa Indonesia! Alhamdulillah ya udah jadi native speaker bahasa Indonesia jadi ga perlu belajar lagi.. πŸ˜‚

Mempelajari suatu bahasa ternyata mempunyai manfaat yang banyak, yaitu: meningkatan memori atau daya ingat, membuat otak bertumbuh, meningkatkan kecerdasan non verbal, meningkatkan rentang fokus, dan masih banyak lainnya. Jadi, ga ada rugi nya untuk pelajari bahasa lain selain bahasa Ibu kita sendiri. 


Cita-cita dulu

Sewaktu masih young, wild and free (baca: pas sma dan kuliah) aku selalu tertarik dengan bahasa dan punya cita-cita untuk menguasai 5 bahasa. 
Alasannya? Ya biar keren aja gitu di CV. hahaha. Alasannya ga penting, yah? πŸ˜› Ga deng.. alasannya adalah supaya kalau nonton film atau drama bisa ngerti kalau ga pakai subtitle text nya. Huehehehe. Alasan utama nya sih supaya bisa berkomunikasi dengan orang lain di luar negeri.. Maklum, dulu masih bercita-cita buat bisa hidup sekolah dan belajar di luar negeri 😁

Bahasa yang pernah aku pelajari selama ini: Bahasa Inggris (jelas.. kan jadi pelajaran wajib juga kalau dulu mah), Bahasa Jepang, Korea, Italia, Arab, Jerman.. Walaupun belajarnya ga sampai selesai dalam artian bisa cas cis cus dalam bahasa-bahasa tersebut, tapi lumayan lah masih bisa tahu kalimat sehari-hari dan bisa membedakan atau mengenali kalau ada orang-orang yang bicara dalam bahasa tersebut, terutama bahasa Korea yang sekarang dipakai sehari-hari (nonton drama atau variety show Korea tiap hari, maksudnya) 

Belajar bahasa waktu dulu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Belum ada aplikasi-aplikasi yang free untuk belajar bahasa seperti yang tersedia sekarang dan juga belum populer youtube yang mengajarkan tentang bahasa tertentu. Untuk mempelajarinya, kita harus datang ke tempat kursus atau pelajari sendiri dari buku yang dijual di toko buku.

Untungnya, untuk mahasiswa, ada UPT Bahasa di ITB yang menyediakan kursus-kursus bahasa dengan harga yang terjangkau. Salah satu kursus yang saya ambil di UPT adalah kursus bahasa Italia, dengan pengajar yang native (orang Italia asli). Sayangnya, kursusnya harus berhenti di level 2 karena pengajarnya harus pulang karena bermasalah dengan visa nya, hiks. Sekarang, sepertinya di UPT juga masih tersedia kursus namun belum tahu kebijakannya selama pandemi bagaimana.

bukan, ini mah bukan yang ngajar di upt itu. minjem pp fb nya paksu waktu di itali.
naha yah kalau kita yang foto estetiqueee, kalo kebalikan mah suka ngeblur (curcol :p)


Di Salman juga dulu menyediakan kursus bahasa Arab. Cuma bertahan 1 level di Salman karena ketinggalan jauuuuhhh banget sama teman-teman sekelas yang rata-rata dari Unisba dan tentunya sudah familiar dengan kosa kata Arab :')

Ohiya, kita juga bisa pelajari bahasa asing di lembaga kedutaan. Seperti waktu belajar bahasa Jerman di Goethe Institute Bandung di jalan Riau. Belajar bahasa Jerman di Goethe cukup menyenangkan dan terstruktur, saya menghabiskan 2 level disana. Kalau di Bandung, bisa juga belajar bahasa Prancis di IFI bandung, letaknya di depan BEC.

Untuk bahasa Korea (dulu Kpop belum se-booming sekarang, dan kursus bahasa korea masih jarang banget), kebetulan dulu menemukan Homey Korean Languange Club dan ini sangat-sangat terjangkauuu karena bayar pendaftaran aja. HKLCC diinisiasi oleh Park Seonsaengnim, dan seperti club lainnya, yang mengajar adalah senior-senior yang sebelumnya sudah belajar di HKLCC. Tempatnya sendiri waktu itu menggunakan SMP di sadang serang (lupa smp berapa). Aku rekomen ini sih untuk anak2 smp sma atau kuliahan di Bandung, hehe


Cita-cita NOW

Tentuuu dong cita-cita buat bisa berbagai macam bahasa belum menguap walaupun sudah beranak 2. Walau tipis kemungkinan buat studi diluar negeri, tapi tetapp alesan no 2 yang diatas tadi bisa digunakan. Kali-kali aja gitu nanti bisa ngobrol sama Kim Seon Ho 😍

μ•ˆλ…•ν•˜μ„Έμš”, μ˜€λΉ 


Beberapa bulan lalu, sempat merefresh pelajaran bahasa korea dan surprised, di youtube banyak sekali yang mengajar tentang bahasa korea! Salah satu youtube yang kuikuti adalah youtubenya Bandung Oppa , menurutku lumayan terstruktur. Dan cari aja worksheet untuk Hangul (huruf korea) supaya kita terbiasa dengan alfabet korea, banyaaak di google. Huruf jepang (katakana dan hiragana) juga banyak ditemukan di google. Aplikasi-aplikasi seperti duolingo, babel dll untuk mempelajari bahasa asing pun banyak bertebaran di app atau play store. Masya Allah ya kecanggihan teknologi dan juga perks of pandemic kayaknya, dimana hampir semua orang belajar di rumah aja jadi banyak yang menyediakan pengajaran berbasis online. 

Ada satu bahasa baru lagi yang belakangan ingin kupelajari. Yaitu.. bahasa isyarat! 
Berawal dari pemesanan g*jek dan qadarallah beberapa kali mendapat driver yang tuna rungu atau wicara sehingga mereka menggunakan bahasa isyarat ketika mengambil pesanan di rumahku. Tentu aku ga bisa membalas bahasa isyarat mereka dan akhirnya aku buka masker supaya mereka dapat membaca gerakan bibir atau menulis di notes. Btw aku sangat mengapresiasi ini sih karena mungkin teman-teman disabilitas agak kesulitan dalam mencari pekerjaan yang sesuai, ya.  

Alfabet dalam bahasa isyarat Indonesia
sumber


Di Indonesia sendiri, ada ratusan ribu penyandang tuna wicara dan tuna rungu. Ada dua bahasa isyarat di bahasa Indonesia yaitu SIBI dan BISINDO (lihat perbedaanya di tempo). Di dunia sendiri, belum ada bahasa isyarat internasional yang sukses diterapkan, karena setiap negara mempunyai bahasa isyarat yang unik jenisnya, misal American Sign Languange (ASL) atau British Sign Language yang berbeda. 

Untuk awal, kita bisa melihat yotube untuk mempelajari atau membiasakan diri dengan kata-kata dasar seperti terima kasih, maaf, dan sebagainya dalam bahasa isyarat. Kita bisa langsung mencari dengan kata kunci bahasa isyarat atau sign language misalnya di video ini. Bisa juga lewat PUSBISINDO, namun sayangnya aku sepertinya belum bisa berkomitmen kalau ikut kursus, jadi hanya bisa pelajari lewat youtube saja. 

Duh, gara-gara Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog jadi semangat lagi nih untuk mengejar lagi cita-cita buat pelajari bahasa-bahasa yang baru. Yuk ah mah semangattt belajar yuk! πŸ’—





Thursday, June 30, 2022

Kisah Pagi

Pagiku biasanya dimulai dengan mematikan alarm di hp, yang dilanjutkan dengan mematikan rentetan snooze alarm berikutnya.

Pagi yang senyap, tanpa ada huru hara panggilan rengekan dan tangisan duo kakak adek, merupakan momen berharga yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Secuil me time, begitulah kira-kira. Hehe.
Inginnya sih me time nya sewaktu malam setelah anak-anak tidur, namun belakangan ini mah, boro-boro. Yang ada juga seringnya aku yang ketiduran duluan sewaktu ngelonin mereka :D

Sehabis berhasil mematikan alarm (jangan tanya alarm yang keberapa, ya! haha) dan menyingkap selimut, biasanya ku langsung minum air putih yang memang hampir selalu kusiapkan segelas di kamar. Biar segar, dan biar benar-benar 'bangun'. Dan ternyata, setelah barusan googling, banyak manfaat untuk minum air putih pada saat bangun tidur dan perut kosong, misalnya untuk membantu metabolisme tubuh, detoksifikasi tubuh yang lebih cepat, dan lainnya.

Setelah habis minum dan sudah 'kumpul nyawa', waktunya wudhu dan sikat gigi. Atau sikat gigi baru wudhu. Kebolak balik aja tergantung mood di kamar mandi maunya ngapain dulu. (Paragraf ini memang random, aku tau. :p) Yang jelas, ternyata setelah googling (lagi), mencuci tangan, berwudhu dan sikat gigi / bersiwak adalah sebagian sunah nabi tentang adab ketika baru bangun tidur.  Masya Allah ❤️ Padahal selama ini mah sikat gigi dan wudhu dilakukan hanya supaya bawaannya badan menjadi segar, dan kantuknya hilang, tp Insya Allah bisa diniatkan jadi ngerjain sunah jg ya, hehe

Morning coffee juga jadi teman pagi semenjak beberapa tahun belakangan ini. Biar kuat dan waras menghadapi hari, ceunah mah. Sambil minum kopi, bisa sambil baca buku, atau nerusin drakor yang niatnya mau ditonton semalem tapi ketiduran. Lumayan lah, 15-20 menit ngecharge jiwa xD





Bicara tentang rutinitas pagi, ada satu 'jam tubuh' yang penting yang ga bisa dilewatkan. Ya itu, jam-jam 'panggilan alam'. Wkwk. Entah kenapa, aku tu tipe yang kalau jam nya atau rutinitas pagi yang kutulis dari paling atas ini ada yang kelewat, hilanglah golden momen hari itu. Huhu. Dulu lebih parah, bisa-bisa kalau kelewat bisa migrenn dan badannya berat ga enak gitu seharian. Sekarang, ga sampai migren banget sih, tp larinya jadi ke timbangan badan jadi nambah berat badan haha.. Ampun deh pokonya. XD 
Setelah googling (entah yang keberapa kali hari ini), ternyata memang pada jam-jam pagi ini, pergerakan usus besar sedang tinggi. Jadi, wajar saja. Huehehe.


Yah, begitulah kira-kira kisah pagi hariku.
Karena sudah mepet waktu deadline Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog, mari kita cukupkan cerita random tentang keseharian pagi sampai disini. :D
Selanjutnya, mari kita bersemangat menjalani hari dengan sebaik-baiknya semampu kita :)
Semangat Pagi!


Wednesday, June 15, 2022

Dear, kakak.

Tema untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini susah.. tentang Parenting. 

Parenting sendiri, menurutku, adalah hal yang sangat sulit. Rumit. Berkaitan dengan segala aspek. Menyangkut tentang mahkluk hidup, dan keberlangsungan hidup. Non stop. Setiap saat, 24 jam sehari, 7 hari seminggu. 

Apalagi, parenting sebelum dan sesudah pandemi. Berbeda. Jauh.

Disclaimer: 

I don't feel like I'm a good mom. No, i'm not. Jika postingan dibawah terasa lebih mengandung curhat daripada advice, mohon dimaafkeun. :)

********

Sebelum pandemi, everything's seems fine, and on track.

Di umur di bawah 5, si kakak yang sudah mulai sekolah dari umur 2.5 tahun, ikut juga dengan berbagai les. TPA tiap sore, lego, bola. No pressure, karena dia senang dengan semua subyeknya. He always smile, and happy. I'm  proud too with his achievement.

Tiap sore pun, kami pun selalu keluar untuk bermain di luar rumah. Aku selalu usahakan supaya anak2 bermain berlarian di depan rumah, berkeringat, bersosialisasi dengan teman-teman, atau paling tidak, menghirup udara segar, menikmati dan mengamati alam sekitar. Supaya tidak bosan di rumah, dan yang juga penting: less gadget. 

And then, pandemic hit.

Beberapa bulan pertama #dirumahaja, kita semua masih senang-senang saja di rumah. Kegiatan dirumah diisi dengan berbagai aneka eksperimen sains seru yang kita lihat di buku dan pinterest. He's still happy, dan banyak milestones yang tercapai waktu awal pandemi karena saya bisa leluasa mengajarkan seperti: bisa membaca. 

But who knows, pandemic will last for this long?

*****

Semakin lama di rumah, semakin bosan lah dia. Dan semakin lelah juga kami. Gadget pun menjadi lebih sering menyala di rumah. Mungkin keadaan ini terjadi di hampir setiap rumah, ya. Sekolah online, les online dan saya tambahkan satu les bahasa inggris dengan harapan, bisa mengisi waktu di rumah agar dia tidak bosan dan paling tidak bertemu dengan teman sebayanya di online. 

Tapi ternyata saya salah. Dia tidak enjoy dengan les (via zoom). 

Dan saya, bukannya berempati, malah terus mendesak dia agar do better and better karena saya lihat teman-temannya bisa. Saya lupa, bahwa milestone anak berbeda-beda. Bahwa kesukaan anak berbeda-beda. Saya juga lupa, bahwa ditambah dengan kehadiran adiknya, perhatian kami terbagi, dan walaupun dia adalah kakak, dia tetap masih berumur 5 tahun. Dan sayangnya, saya baru menyadari lagi hal ini di akhir-akhir ini. 

Ketika pergantian jenjang sekolah dari TK ke SD tahun lalu, masih dimasa pandemi yang sedang dalam puncak-puncaknya, ditambah dengan kepindahan kami ke kota lain, mungkin membuat dia, dan saya, kewalahan. Adaptasi dengan cara belajar yang lebih serius dan juga dengan lingkungan baru membuat dia menjadi stress. Ya, saya bisa lihat bahwa dia stress. Tapi lagi-lagi, bukannya berempati, saya mendesaknya lagi, karena lagi-lagi, saya melihat pencapaian teman-temannya.

He's no longer smile a lot. 

******

I know we need to change. I miss his old self who always smile, always happy. But I'm fully aware that I am the person who made him like this. Ketika mereka ada di rumah 24 jam bersama kita, siapa lagi yang membentuk mereka seperti ini? Tentu saja kita. 

Beberapa penyebab yang kupikir membuat burn out menjadi orangtua, adalah:

1. Gadget.

Walaupun memang benar gadget diperlukan untuk sekolah online, tapi karena itu juga dia jadi kenal berbagai game dan tentunya menonton youtube. Masalahnya, ketika dia sudah kenal itu, dia jadi ketagihan. Dan kalau sudah menonton, menjawab ketika dipanggil saja pun tidak. Dan karena itu, saya jadi marah-marah. Walaupun ada time limit, tapi terkadang tidak segampang itu untuk dijalani dalam kesehariannya. (Saya sendiri) perlu lebih disiplin dalam mengatur 'jatah' gadget.

2. Ga usah lihat anak-anak lain

Setiap anak punya milestone sendiri. I repeat that to myself. Anak laki-laki pun berbeda milestonenya dengan anak perempuan. Ga usah banding-bandingin dengan anak-anak lain di kelas, apalagi di sosmed. Just encourage him and compliment him if he make another achievement. 

3. Marah dan tantrum

Marah itu bagiku seperti lingkaran setan. Dia marah, aku marah. Dia tambah marah, aku tambah marah. Ga habis-habis jika marah dibalas dengan marah. Step back, calm yourself first, then you'll be able to calm your child. 

*******

Karena dia sudah terlanjur berubah, yang sekarang bisa kulakukan dan jadi fokusku saat ini adalah agar dia tidak ada inner child yang akan mempengaruhi kesehatan mentalnya kelak. I've done a lot of wrong things to him, and I still do sometimes, here and there. 

Ada satu kutipan buku yang belakangan terngiang,

'How can you care for others if you cannot even care for yourself? 

How can you do good if you don't even feel good? 

I can't love you if I cannot love myself.'

-from The Monk who sold his Ferrari (R.S. Sharma)

Memang betul anak seperti kertas kosong, yang akan tergantung kita akan membuat origami berbentuk apa. Anak-anak, akan dibentuk oleh perlakuan kita kepadanya. I want him to be happy. Jadi yang (sedang dan masih akan kuusahakan) kulakukan sekarang adalah:

1. Emphaty

Posisikan diri pada posisinya. Rasakan apa yang kira-kira ia rasakan. Pedulikan perasaannya. Minta maaf dengan tulus ketika kita kelepasan memarahinya (lagi) karena kita ga tahu ingatan dia yang mana yang akan dia ingat sampai besar.

2. Lower my expectations

Sejujurnya, bahkan dalam urusan akademik sekarang udah ga berharap dia akan bisa ini itu, prestasi ini itu. Untungnya, sekolahnya juga sepertinya santai, bukan yang terlalu mengejar akademis. Segala les online itu? Sudah bye-bye dari dulu demi kewarasan umat. :)

3. Give love

dengan bilang 'Ibun sayang kakak', dengan banyak pelukan, dengan obrolan tanpa distraksi, dengan hadir membersamai di kegiatannya.. kerasa banget deh, ketika kita 'melembut' dengan dia seperti ini, marah2nya dia menjadi berkurang, dia juga jadi lebih menurut dan mendengar kita..

Dan untukku agar bisa melakukan ketiga hal diatas, seperti yang dikatakan kutipan buku tersebut, I give love to myself first. I make myself happy, and I'll care more about myself. So I will ready to give my children happiness. :)

******

I Love you, dear Kakak.

And we will be happy :)



******

I'm writing this post so that you, my dear readers, can learn from my mistakes and won't repeat the same mistakes like I did. Your child is precious. So are mine.  

And to all mothers out there, 

just in case no one told you this yet today:

'You are doing good. Thank you for your hard work in raising your children.'

With love,

Aiti,