Tuesday, February 8, 2022

A Journey to Tanjung Bira

Kalau ditanya pengalaman travelling apa yang paling kuingat untuk kami saat ini.. 

Hmm.. Akan kujawab perjalanan kami yang terakhir ke Tanjung Bira. 

Pantai Tanjung Bira


Kenapa? 

Karena itulah perjalanan terakhir sesaat sebelum pandemi C19 ini masuk ke Indonesia.. Tepatnya pada Maret 2020. Saat masih bisa travelling tanpa worry, tanpa masker, tanpa perlu antigen atau PCR untuk naik pesawat. Kapan lagi ya kita bisa travelling dengan bebas kayak gitu lagi? Mudah-mudahan segera ya Aamiin ya Rabb :')

Tema Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini adalah tentang pengalaman travelling yang berkesan. Siapa tau nanti kalau pandemi sudah usai, pengalaman kami menjelajahi Tanjung Bira dapat jadi referensi buat berlibur, hehe :)

Jadii, dimana sih Tanjung Bira itu?

Tanjung Bira terletak di Sulawesi Selatan. Jauh yah, kalau dari Jakarta atau Bandung. Tapi buat kami yang waktu itu sedang tinggal di Balikpapan, Kalimantan Timur, perjalanan untuk liburan ke Sulsel jauh lebih murah daripada untuk liburan atau mudik ke pulau Jawa. Harga pesawat ke Makassar hanya kira-kira 1/2nya lah dari harga pesawat ke Jkt, dan juga perjalanannya cepat, cuma 45 menitan. 
Nah, dari Makassar ke Tanjung Bira itu hanya bisa dilalui jalan darat atau pakai mobil. Perjalanannya sekitar 5-6 jam perjalanan. Jauh ya? Iya.. banget. Apalagi kalau bawa bocil dan nak bayi.. Hahaha.. Mayan banget deh >.<

gmaps from Makassar (point di kiri) dan Tanjung Bira (point di kanan)

On the way to Bira

Waktu itu kita sewa mobil yang lepas kunci dari Makassar untuk ke Bira. Selain karena lebih private dan nyaman daripada naik travel, di Bira pun ga ada kendaraan umum jadi memang akan lebih convenient kalau punya kendaraan. Dan waktu itu kita sekalian sewa carseat untuk nakbayi di mobil. 

Pas sebelum berangkat mikirnya, ya ampun ngapain aja nih 5 jam di jalan.. Bosen banget pasti.. Eehh tapi ternyata, Masya Allah pemandangannya superrrr sekali bagus banget!! Kombinasi gunung, sawah, hutan, pantai dan laut, bener-bener manjain mata banget.. Di beberapa titik kita ada di atas bukit atau gunung dengan pemandangan sawah dan laut di kejauhan.. di beberapa titik lainnya kita menyusuri garis pantai yang air lautnya hanya beberapa meter dari jalan raya.. Kami juga sempet berhenti sejenak di pinggir jalan raya buat main ke sawah yang luasss.. Kapan lagi ya kan ajak anak2 main di sawah, hehe

sawaaaaaah di pinggir jalan

Surprisenya lagi, sepanjang perjalanan itu jalannya muluuuus banget, even ke jalanan di tengah antah berantah yang kanan kiri nya sawah atau lapangan.. dan guess what, kita ngeliat ada kincir angin raksasa alias PLTB (Pembangkit Listrik Tenaga Bayu).. ya ampun gatau kenapa aku ngerasa bangga banget di Indonesia udah punya kincir angin itu.. (lebay bgt ya? tp beneran xD) Terakhir lihat kincir kayak gitu di Jepang.. mudah-mudahan bakal ada semakin banyak ya PLTB supaya bisa ngurangin penggunaan batubara, hehe

kincir angin 

Sampaiiii di Bira!

Di kawasan Tanjung Bira sendiri itu terbagi jadi dua pantai utama, yaitu Bira dan Bara. Kalau di Pantai Bira itu pasirnya lebih luas, tapi lebih ramai karena pantai umum.. Kalau di Pantai Bara, tempatnya lebih sepi karena banyak pantai yang langsung nyambung ke hotel/cottage gitu. Sama-sama Bagussss dan airnya sama-sama jernih! Bener-bener yang jernih warna turqoise gitu Masya Allah.. Dari pantai Bira ke Bara mesti pakai mobil/motor sekitar 10-15 menitan. 

main air di Pantai Bara

Pantai Bira, sepiii krn pas weekday


Cottage yang waktu itu kami inapkan letaknya di Pantai Bara. FYI, menurutku harga hotel di Tanjung Bira lumayan agak pricey ya, kl dibandingkan dengan hotel di Makassar.

Kalau ke Tanjung Bira, jangan lewatkan kesempatan untuk snorkeling di laut yang jernihh.. kita kemarin sewa perahu 300ribu, bisa muat sampai 8 orang, plus sewa alat snorkelingnya 50 ribu per set. Terumbu karangnya baguuus, airnya lumayan tenang, bahkan bocah 4 tahun bisa ikutan nyemplung di tengah laut hihi.. Perjalanan naik speedboatnya cuma sekitar 10 menitan sampai ke spot snorkeling. Nah biasanya sih orang-orang juga mampir ke Pulau Liukang (10 menitan naik speedboat) untuk ke penangkaran penyu, tapi karena kemarin kita bawa anak 4th dan bayi, jadi cuma snorkeling 1jam an aja trus balik ke pantai.. Tapi bener-bener worth it banget dan jadi pengalaman berharga untuk kami saat itu <3

Nak lanang lagi brenang di laut

Tujuan selanjutnya itu ke KM 0, yaitu titik paling ujung di Sulawesi Selatan. Pas waktu kita kesana tahun 2020 itu sih, tempatnya masih dalam pengembangan untuk fasilitas kayak toilet, toko-toko dll.. cuma untuk tangga ke lautnya sendiri udah jadi, dan ya Allah pemandangannya luar biasa...
Dari atas tebing itu memang agak tinggi untuk sampai ke jembatan yang paling bawahnya, tapi don't worry kalau misal ga sanggup untuk ke bawah kayak aku dulu, capek banget sambil gendong bayi, cuma di atas tebingnya jg gapapaa.. tetap bisa mengagumi indahnya KM 0 dari atas. KM 0 ini letaknya masih di dalam kawasan Tanjung Bira, jadi make sure jangan lewatkan spot ini ya kalau ke Tanjung Bira!

 

superb view

Sekitar Tanjung Bira

Di dekat pantai Tanjung Bira itu ada Pantai yang bernama Pantai Phinisi. Sesuai namanya, Pantai Phinisi ini adalah pantai yang menjadi workshop untuk pembuatan perahu Phinisi yang termahsyur itu.. Sebetulnya pantai ini bukan pantai wisata sih, tapi keren aja pas kesana kita ngeliat perahu Phinisi dari dekat.. Si kakak (dan Bapaknya) juga seneng ngeliatin perahu-perahu.. kalau Ibun? cuma liat bentar aja trus masuk mobil lagi karena debu, hihihi.. Kesian anak bayi kepanasan dan kedebuan (alesan emang :p)

the great Phinisi Ship

Ada satu spot lagi di dekat Tanjung Bira yang keindahannya masih terekam di kepala sampai sekarang.. Namanya Tebing Appalarang. Letaknya sebelum Tanjung Bira dan lumayan masuk ke hutan, tapi jalannya jalan beton kok, jadi aman aja buat mobil. Viewnya itu looh.. Masya Allah lagi-lagi membuat terkesima.. Paduan dari tebing, air yang berwarna biru kehijauan, dan lautan yang luas, bener-bener deh.. Luar Biasa. 

Magical View. Masya Allah. 


Kayaknya sepanjang perjalanan ini aku dan suami ga ada henti-hentinya memuji keindahan dari sang Pencipta.. 

our last sunset in Tanjung Bira

Satu blogpost ini memang ga akan bisa menceritakan keseluruhan pemandangan yang kami lihat selama perjalanan kami.. Tapi semoga bisa memotivasi yang baca blog ini untuk bepergian dan menjelajahi berbagai keindahan yang ditawarkan berbagai tempat di Nusantara, ketika pandemi sudah usai. Beneran deh, wisata di Indonesia itu ga kalah dengan wisata ke luar negeri. 

Terima kasih ya, Mamah Gajah Ngeblog, karena tema tantangan kali ini jadi membuatku bernostalgia perjalanan kami. Selama nulis ini, excitement akan perjalanan yang kami rasakan dulu muncul kembali dan membuat aku tersenyum-senyum selama mengetik, hehe :) 



 


Monday, January 31, 2022

Dear Bandung,

Dear Bandung, 

Si kota kembang, kota yang menyimpan berjuta kenangan. 

Duluu sekali, tahun 90an, mengunjungimu minimal sekali setahun pas mudik Lebaran jadi agenda wajib yang ditunggu-tunggu. Ketika itu perjalanan dari ibukota masih memakan waktu yg lama. Lewat puncak, cikampek, ataupun lewat Jonggol. Tak sabar rasanya berkumpul sama sepupu-sepupu yang jumlahnya super banyak itu. Menggelar kasur-kasur di ruang tengah dan tidur berdempetan bersama-sama. Mengobrol sampai malam sambil main game, atau terkadang kembang api. Ah ya, jangan sampai lupa membawa sweater atau jaket. Udara bandung saat itu masih luar biasa dingin, apalagi buat yang terbiasa dengan panasnya udara Jakarta. Ketika hari lebaran tiba, antrian untuk dapat uang lebaran sudah rapi berbaris dari cucu paling kecil ke cucu paling besar, untuk mendapatkan lembaran uang baru dari kakek nenek, dan dari uwa tertua sampai tante om termuda. 11 orang. Keluarga yang sangat besar, ramai, dan Alhamdulillah kompak. Saat antrian selesai, semua cucu sibuk menghitung uang baru, memasukkannya ke dompet sampai menggembung, dan jajan eskrim Walls di warung depan rumah. Walls saat itu adalah eskrim mahal buat kami, tapi saat lebaran itu kami merasa kaya, jadi kami berfoya-foya :D

Dear Bandung,

Ketika tahun 2005, aku melihatmu dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Mulai tinggal sendiri di Cisitu, di tempat kost, membuatku merasakan sensasi yang berbeda daripada hanya sekedar mudik. Walaupun jarak tempat kost dan rumah almarhum kakek nenek hanya sepelemparan batu, dan sudah sangat familiar dengan daerah itu, tetap saja ada yang berbeda. Seperti pengalaman baru, dengan kehidupan baru bersama teman-teman se sma yg ngekost bareng dan juga kampus yang baru. Masih kuingat dengan jelas bagaimana suasana pagi ketika berangkat OSKM, dan juga kesotoyan tinggi salah naik angkot dari simpang, dengan harapan turun langsung di lapangan sipil dan ga perlu jalan dari gerbang belakang, malah naik Caheum Ciroyom dan bukannya Caheum Ledeng. Walhasil lah mesti turun di pertigaan Sumur Bandung situ, dan olahraga pagi jalan kaki sampai ke sipil. Dan mungkin krn spirit kebebasan (dan juga masih excited hidup baru di bandung), ke Gede Bage lah kita modal nekat gatau jalan, cuma tau mesti pakai angkot pink aja sampai ujungnya, krn dikasih tau sama kakak kostan. Berburu baju bekas, atau istilah kerennya sekarang: thrift, dengan harga 1000an. Iya, dulu beneran ada yg harga 1000 dan masih ok kondisinya, jauh sebelum Gede Bage itu booming dan harganya jadi mahal. Pulang-pulang langsung beli Dettol dan rebus air panas, rendam semuanya di ember. Haha. 

Dear Bandung, 

Dari semenjak awal kuliah sampai beberapa tahun setelahnya, ada begitu banyak cerita dari kehidupan kampus. Kuliah, himpunan, unit, begitu berwarna, begitu menyenangkan. Dan membuatku semakin betah untuk hidup di Bandung. Punya teman-teman yang bisa diajak untuk bersenang-senang, punya tempat tinggal kostan yang dekat dengan kampus. Maklum, semenjak SD dulu rasanya rumahku jadi rumah yang paling jauh diantara teman-teman, minimal satu jam perjalanan pakai mobil lewat tol kalau gak macet. Pergi pagi-pagi buta dari rumah, dan pulang malam jam 9 sampai di rumah, bukan untuk main, tapi untuk bimbel. Bukan, bukan aku tersiksa punya pola hidup seperti itu, aku pun bersenang-senang (baca: belajar sama-sama) sama sahabat-sahabat aku. Tapi, punya tempat tinggal yang dekat dan bisa main sama teman (literally main, ya, ngemall, jalan, dsb) itu jadi impian juga, hehe.

Dear Bandung, 

Ada banyaaaaak sekali cerita kalau bicara mengenai dirimu. Aku lahir di kotamu, keluarga besarku hidup di kotamu, Aku habiskan hampir setengah hidupku di kotamu, dan orang tua suamiku juga tinggal di kotamu. 

Walaupun engkau sangat dinamis dengan berbagai perubahan yang terjadi, tapi bagiku, Bandung tetap menjadi salah satu kota kecintaanku. Senang, sedih, semangat, depresi, harapan, kehilangan, kehadiran, semua perasaan yang kualami di kotamu telah berbaur menjadi bagian dari cerita kehidupanku. 

Maka itu, kutulis surat ini untukmu, untuk menjadi pengingat kecil dari satu-dua episodeku di kotamu, dan mungkin untuk pembaca Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog yang juga mempunyai satu-dua episode tersendiri di kotamu. 

Dear Bandung,

Tetaplah bersemi.

Mungkin benar, Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. :)




Tuesday, January 11, 2022

Review Taman Wisata Bougenville (Part 2)

Meneruskan post review part 1 yang sebelumnya..

Jadi di Taman Wisata Bougenville ini ada beberapa fasilitas yang bisa kita explore.. Ada beberapa yang perlu biaya tambahan dan hanya tersedia/dibuka saat weekend, yaitu Flying Fox dan Playground.. Luckily, waktu kemarin kita menginap itu kan bukan weekend, tapi kita bisa minta bukakan playground ke petugasnya (tetap bayar tentunya). 

1. Kolam berenang

Ada 2 buah kolam yang letaknya di dekat pintu masuk. Airnya dingiiiiiiinn bgt! Tapi ya seru-seru aja sih buat main.. ini foto kolam yang satu (letaknya lebih bawah), yang satu lagi letaknya di dekat cafe/resto, ada perosotan jga sih tapi ga setingggi ini, dengan air yang sama dinginnya. Untuk kolamnya sendiri mungkin lantainya agak kotor ya at some parts of pool, but that's still okay. Di sisi kanan foto yang dinding batu itu, itu bisa nyala jadi air mancur gitu dan kita bisa main2 disitu juga. 



2. Main di sungai

Kalau ga mau main di kolam tapi tetep main air, bisa banget! Orang-orang (apalagi orang-orang kota yang jarang banget main di air kyk kamiii) kuyakin bakal tergiur buat main di sungai itu. Airnya jernihhhh banget, mungkin lebih jernih dari air kolam haha.. arusnya ga terlalu deras, gak dalem, banyak batu2 besar kalau mau duduk-duduk sambil nyemplungin kaki doang, atau kalau mau sekalian berendem juga bisaaaa. Bisa jadi sarana buat ngenalin alam ke anak-anak juga, biar mereka punya pengalaman untuk main di kali.. kapan lagi ya kaan? 😁




3. Skywalk

Kalau disana namanya Taman Langit kalau ga salah. Semacam jembatan gitu buat jalan kaki. Sebenernya ga terlalu besar/panjang tapi cantik jembatannya dan juga viewnya bagus, menghadap ke Mooi Lake House. Di sisi kanan-kiri railing jembatannya ditanami pohon bunga (gatau namanya apa) jadi bagus gitu deh, hehe.. 



4. Playground

Playground outdoor ini luas, dengan beragam permainan: track sepeda, trampoline, ada semacam track permainan ketangkasan juga (duh apa ya namanya ini, liat di foto aja ya untuk lebih kebayangnya, hehehe), panjat tebing mini, perosotan/ayunan, permainan balok keseimbangan, dll hehe..

Anak-anak mah jangan ditanya, doyan banget disini ga mau kelar-kelar mainnya.. hahaha.. Oiya ini berbayar ya 25rb per anak per jam nya.. 




5. Flying Fox 

Flying Fox ini berbayar juga kalau ga salah 25rb juga. Lintasannya panjang yah gaes ngelewatin danau gitu hehe.. Bagus sebenernya tapi sayangnya ga kefoto. Kemarin beberapa saudaraku ada yang sempet main flying fox ini, tapi pas aku mau naik, petugasnya keburu pergi istirahat makan siang >.< 

6. Water lily pond (Taman teratai), Secret Island and Explore more..

Kita bisa mengeksplorasi kawasan ini lebih jauh sampai ke bagian belakangnya. Ada banyak yang bisa kita temukan disini: 

-Taman teratai, ada 2 ya, di sisi yang berbeda. Yang di deket secret island menurutku kurang terawat, walaupun lebih besar, 

-Secret Island, bener2 secret ni kayaknya, suamik, kaka ipar dan mertua pas jalan masing2 ga nemu dan sempet nyasar, wkwk. Disananya sendiri sebenernya ga ada apa2, ada banyak pohon bunga tapi ya lagi-lagi sepertinya akan lebih bagus lagi kalau lebih dirawat (atau konsepnya memang gitu? haha)

-di bagian paling belakang juga ada sawah-sawah.. Bisa banget bawa anak2 main di sawah hehe.. 

Note: Pakai sepatu yang nyaman sangat disarankan ya, areanya turun naik dengan jalanan berbatu dan tanah/rumput. 





Overall rate: Ok banget buat jadi tempat weekend escape! Aku saranin sih nginap semalam, bawa makanan buat makan malem, atau bisa juga pesen di cafe (maksimal pesen nya jam 4, tp bisa buat malem), kalau sarapan dikasih dari tempat villanya. Hehe. Enjoy Puntang!