Saturday, August 27, 2022

17 Agustus yang Meriah

 Mumpung masih di bulan Agustus dan Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog bulan ini bertema bebas, kali ini aku akan menuliskan pengalaman perayaan hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh di minggu lalu.

Menurutku, perayaan 17 Agustusan tahun ini berlangsung sangat meriah! Dari mulai tingkat negara di istana sampai ke acara di lingkungan rumah, dan juga kalau lihat postingan yang berseliweran di IG. 

Wajar saja, setelah 2 tahun pandemi dan apalagi tahun lalu 17 agustus datang masih dalam bayang-bayang gelombang Delta, Alhamdulillah tahun ini situasi (terasa) lebih kondusif dan orang-orang lebih berdamai dengan pandemi. Slogan perayaan kemerdekaan tahun ini yang berbunyi 'Pulih lebih cepat, Bangkit lebih kuat' pun terasa begitu positif dan menyemangati bangsa. 

Siaran langsung Upacara Bendera yang jadi tontonan wajib tahunan ini juga terasa lebih seru. Mulai dari Kirab Budaya (jujur aja kayaknya baru kali ini sih liatnya, karena tahun-tahun sebelumnya biasanya mulai nonton kalau sudah dekat jam 10, tahun ini tumben mantengin tv dari pagi hehehe), meriam dan Paskibraka (as always), iringan pesawat jet (yang sudah beberapa hari sebelumnya bolak balik terbang melintas di atas rumah), tarian dari Sulawesi (yang kebayang adalah mereka latihannya berapa bulan dan pasti seru naik pesawat bareng2 dari sulawesi buat perform di istana, hehe), Gita Bahana Nusantara yang arensemennya tahun ini pun terasa meriah (ada Alif Fakod! Kaltim pride!), dan walaupun sampai sekarang masih blum paham kenapa tamu undangan yth itu mesti joget sampai literally turun ke jalan (joget mah di kursi weh atuh.. kan judulnya jg masih upacara bukan konser *sewot*) ada penerjemah bahasa isyarat viral (seneng bgt krn profesi ini jadi makin dilihat, jadi inget tulisanku ttg BISINDO di sini.)

Di lingkungan rumahku sendiri, kami memutuskan untuk mengadakan perlombaan khas 17 Agustusan yang akan jadi memori masa kecil mereka. Kebetulan komplek kami ini bisa dibilang komplek tua (saya generasi ke 2 yang tinggal di RT sini), dan di jalan sini ada 3 keluarga generasi ke 2, tapi kalau di total anak2nya ada 10 orang dari 3 keluarga ini. Jadi sekalian disclaimer foto-foto dibawah ya, kenapa mereka ga maskeran, karena memang sudah setiap hari keluar masuk rumah Ibun - Mamah Tanti - Mama Sessy hehehe

seragam merah

Biar makin meriah dan nuansa merah-merahnya dapet, Mamah Tanti udah siapin seragam kaos merah untuk semua. Wah, makin kerasa suasana 17annya, apalagi di sekitar rumah Mamah Tanti dan Oma Ani sudah dipasang bendera merah putih plastik dari 2 minggu sebelumnya, jadi anak-anak makin excited!

Perlombaannya yaa ga jauh-jauh dari makan kerupuk, lomba masukkan bendera ke botol, lomba kelereng, nyanyi lagu Hari Merdeka, pokoknya lomba 17an pada umumnya deh, hehehe.. Dimulai dari setelah shalat ashar, sampai lomba penutupan abis adzan maghrib :D Hadiahnya yang melimpah ruah, dari 10 anak ini kita ortunya menyiapkan 110 kado hahaha.. Thanks to Shop** yah walaupun budgetnya ga besar, tapi bisa dapat banyak banget (yaiyalah.. orang harga hadiahnya aja ada yang 1000an, paling mahal kayaknya yoyo yang cuma 10ribuan xD ). Biar murah yang penting mereka senang, punya hadiah banyak banget dan waktu bagi hadiahnya udah kayak antri sembako haha

perlombaan pertama: makan kerupuk

tercyduk makan pake tangan


niat banget pakai bikin lintasan segala hehe


saking banyaknya kado sampai dibawa pakai kantong kresek


Alhamdulillah sangat berkesan perayaan 17 agustus tahun ini. Semoga anak-anak jadi makin cinta sama negaranya dan punya kenangan masa kecil positif yang menyenangkan 💓 

Dirgahayu Indonesia!

 

Saturday, August 6, 2022

Gaudeamus Igitur

Hari wisuda yang ditunggu-tunggu oleh semua mahasiswa merupakan hari yang penuh dengan keriaan, kegembiraan, rasa syukur, rasa bangga, dan beragam perasaan lainnya. Satu hari yang jadi 'goal' dan tak jarang juga menjadi mimpi bagi anak -sang mahasiswa- dan orang tuanya, layak untuk diperjuangkan selama bertahun-tahun dengan penuh peluh, biaya, maupun tangisan. 

Saat itu aku masih SMA. Pertama kalinya masuk ke dalam gedung Sabuga yang megah, lengkap dengan kerumunan orang-orang di luar yang pada akhirnya ku tahu mereka adalah mahasiswa anak himpunan yang akan mengarak-arak para wisudawan, juga para penjual bunga, balon, makanan dan minuman. Sangat meriah, pikirku waktu akan memasuki ruangan dalam Sabuga. 
Hari itu aku datang untuk menghadiri wisuda magister Abah di Teknik Geologi. Kebetulan Kakekku adalah Guru Besar di prodi tersebut, jadi kami dapat undangan untuk duduk di kursi VIP yang letaknya persis di depan podium. 

Acara pun dimulai. Wajah-wajah para wisudawan dan wisudawati dengan toga berwana dongker dan beludru hitam terlihat begitu sumringah. Kami berdiri ketika Rektor dan jajarannya memasuki area ruangan wisuda. Bapak Rektor dan jajaran menggunakan toga Guru Besar lengkap dengan topi dan juga kalung medali dan berjalan gagah ke podium wisuda. Lagu Mars ITB pun membahana setelah tongkat mayoret diketuk dan mengiringi langkah para petinggi ITB tersebut. Tak terasa, rasanya seperti nafas ini tertahan kagum melihat Beliau-beliau yang terhormat ini. 

Melewati prosesi wisuda yang awalnya kupikir di rumah itu sangat menegangkan, namun ternyata begitu khidmat dan juga penuh haru. Iringan lagu-lagu dari Paduan Suara Mahasiswa PSM ITB dan Angklung KPA ITB menambah kekhusyukan acara. Deretan mahasiswa berjajar menunggu giliran untuk bersalaman dengan Rektor dengan gugup. Nama demi nama pun dipanggil, dan bila tersemat predikat Cum Laude, Sabuga pun bergema dengan tepuk tangan. Terkadang Sabuga pun berisikan tawa ketika Bapak Wakil rektor membacakan kesan pesan dari para wisudawan/wati. Lagu persembahan wisudawan di sela-sela acara bersalaman juga membuat suasana Sabuga menjadi hangat dan mencair.

Aku begitu jatuh cinta pada suasana wisuda ITB di gedung Sabuga.
Dan saat itu, aku harap suatu saat aku bisa menjadi bagian dari wisudawan wisudawati yang lulus dari Kampus Ganesha.  

sumber foto


Karena waktu itu kami duduk di kursi urutan depan, kami bisa lihat dengan jelas ketika giliran Abah bersalaman dengan Rektor, Dekan, dan Kaprodi yang kebetulan waktu itu adalah Dosen pembimbingnya yang merupakan teman dari kecilnya. Dosen pembimbingnya itu kemudian menjadi salah satu promotorku, pada akhirnya :)

Abah (berjas hitam kemeja putih tanpa dasi) dan dosen pembimbingnya sekaligus promotorku, Pak Mino (Prof. Benyamin Sapiie) berdiri di sebelahnya menggunakan dasi berwarna biru muda.

Alhamdulillah, selepas SMA aku diterima di Kampus Gajah ini. Pada masa OSKM, aku memilih menjadi bagian dari paduan suara untuk upacara 17 agustus karena aku begitu terpukau dengan PSM ITB pada saat menghadiri wisuda Abah dulu. Dan kegiatan PSM ku ini terus berlanjut sampai menjadi bagian dari unit ini dan beberapa kali bertugas pada acara wisuda. Setiap kali, rasa kagum akan prosesi wisuda selalu terasa. Apalagi ketika menyanyikan lagu Mars ITB untuk memulai prosesi, rasanya bulu kudukku merinding:

'Derapkan langkah, tatap ke depan
ITB citra Ganesha..'  

Ketika sudah menjadi anak himpunan, akhirnya aku merasakan bagian wisuda dari sisi lain, yaitu arak-arakan. Seru, meriah, dan tentunya jadi momen yang tak terlupakan baik oleh para wisudawan maupun bagi kami yang menyiapkannya. 

Pak satpam yang was-was dan siap bubarin kalau ada yang berantem pas arak-arakan :D 


Yang pasti, setiap acara wisuda baik ketika bertugas di PSM maupun di Terra, memberiku semangat dan motivasi untuk menyelesaikan studiku agar aku dapat merasakan prosesi wisuda untukku sendiri. 

Setelah hampir tak pernah absen dalam acara wisuda, akhirnya pada Oktober 2009. I made it come true :) Alhamdulillah. 


Terra 2005 💓


Gaudeamus igitur (Mari kita bersenang-senang)
Iuvenes dum sumus (Selagi masih muda)
Gaudeamus igitur (Mari kita bersenang-senang)
Iuvenes dum sumus (Selagi masih muda)
Post jucundam juventutem (Setelah masa muda yang penuh keceriaan)
Post molestam senectutem (Setelah masa tua yang penuh kesukaran)
Nos habebit humus (Tanah akan menguasai kita)

Vivat Academia (Panjang umur akademi)
Vivant Professores (Panjang umur para pengajar)
Vivat Academia (Panjang umur akademi)
Vivant Professores (Panjang umur para pengajar)
Vivat membrum quodlibet (Panjang umur setiap pelajar)
Vivant membra quaelibet (Panjang umur seluruh pelajar)
Semper sint in flore (Semoga mereka terus tumbuh berkembang)
Semper sint in flore (Semoga mereka terus tumbuh berkembang)

*****

Tulisan ini dibuat untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Agustus 2022. Dengan tema umum 'Cerita Cinta', kutuliskan sepenggal kisah cintaku kepada Institut kita tercinta ini. :)