Monday, January 31, 2022

Dear Bandung,

Dear Bandung, 

Si kota kembang, kota yang menyimpan berjuta kenangan. 

Duluu sekali, tahun 90an, mengunjungimu minimal sekali setahun pas mudik Lebaran jadi agenda wajib yang ditunggu-tunggu. Ketika itu perjalanan dari ibukota masih memakan waktu yg lama. Lewat puncak, cikampek, ataupun lewat Jonggol. Tak sabar rasanya berkumpul sama sepupu-sepupu yang jumlahnya super banyak itu. Menggelar kasur-kasur di ruang tengah dan tidur berdempetan bersama-sama. Mengobrol sampai malam sambil main game, atau terkadang kembang api. Ah ya, jangan sampai lupa membawa sweater atau jaket. Udara bandung saat itu masih luar biasa dingin, apalagi buat yang terbiasa dengan panasnya udara Jakarta. Ketika hari lebaran tiba, antrian untuk dapat uang lebaran sudah rapi berbaris dari cucu paling kecil ke cucu paling besar, untuk mendapatkan lembaran uang baru dari kakek nenek, dan dari uwa tertua sampai tante om termuda. 11 orang. Keluarga yang sangat besar, ramai, dan Alhamdulillah kompak. Saat antrian selesai, semua cucu sibuk menghitung uang baru, memasukkannya ke dompet sampai menggembung, dan jajan eskrim Walls di warung depan rumah. Walls saat itu adalah eskrim mahal buat kami, tapi saat lebaran itu kami merasa kaya, jadi kami berfoya-foya :D

Dear Bandung,

Ketika tahun 2005, aku melihatmu dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Mulai tinggal sendiri di Cisitu, di tempat kost, membuatku merasakan sensasi yang berbeda daripada hanya sekedar mudik. Walaupun jarak tempat kost dan rumah almarhum kakek nenek hanya sepelemparan batu, dan sudah sangat familiar dengan daerah itu, tetap saja ada yang berbeda. Seperti pengalaman baru, dengan kehidupan baru bersama teman-teman se sma yg ngekost bareng dan juga kampus yang baru. Masih kuingat dengan jelas bagaimana suasana pagi ketika berangkat OSKM, dan juga kesotoyan tinggi salah naik angkot dari simpang, dengan harapan turun langsung di lapangan sipil dan ga perlu jalan dari gerbang belakang, malah naik Caheum Ciroyom dan bukannya Caheum Ledeng. Walhasil lah mesti turun di pertigaan Sumur Bandung situ, dan olahraga pagi jalan kaki sampai ke sipil. Dan mungkin krn spirit kebebasan (dan juga masih excited hidup baru di bandung), ke Gede Bage lah kita modal nekat gatau jalan, cuma tau mesti pakai angkot pink aja sampai ujungnya, krn dikasih tau sama kakak kostan. Berburu baju bekas, atau istilah kerennya sekarang: thrift, dengan harga 1000an. Iya, dulu beneran ada yg harga 1000 dan masih ok kondisinya, jauh sebelum Gede Bage itu booming dan harganya jadi mahal. Pulang-pulang langsung beli Dettol dan rebus air panas, rendam semuanya di ember. Haha. 

Dear Bandung, 

Dari semenjak awal kuliah sampai beberapa tahun setelahnya, ada begitu banyak cerita dari kehidupan kampus. Kuliah, himpunan, unit, begitu berwarna, begitu menyenangkan. Dan membuatku semakin betah untuk hidup di Bandung. Punya teman-teman yang bisa diajak untuk bersenang-senang, punya tempat tinggal kostan yang dekat dengan kampus. Maklum, semenjak SD dulu rasanya rumahku jadi rumah yang paling jauh diantara teman-teman, minimal satu jam perjalanan pakai mobil lewat tol kalau gak macet. Pergi pagi-pagi buta dari rumah, dan pulang malam jam 9 sampai di rumah, bukan untuk main, tapi untuk bimbel. Bukan, bukan aku tersiksa punya pola hidup seperti itu, aku pun bersenang-senang (baca: belajar sama-sama) sama sahabat-sahabat aku. Tapi, punya tempat tinggal yang dekat dan bisa main sama teman (literally main, ya, ngemall, jalan, dsb) itu jadi impian juga, hehe.

Dear Bandung, 

Ada banyaaaaak sekali cerita kalau bicara mengenai dirimu. Aku lahir di kotamu, keluarga besarku hidup di kotamu, Aku habiskan hampir setengah hidupku di kotamu, dan orang tua suamiku juga tinggal di kotamu. 

Walaupun engkau sangat dinamis dengan berbagai perubahan yang terjadi, tapi bagiku, Bandung tetap menjadi salah satu kota kecintaanku. Senang, sedih, semangat, depresi, harapan, kehilangan, kehadiran, semua perasaan yang kualami di kotamu telah berbaur menjadi bagian dari cerita kehidupanku. 

Maka itu, kutulis surat ini untukmu, untuk menjadi pengingat kecil dari satu-dua episodeku di kotamu, dan mungkin untuk pembaca Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog yang juga mempunyai satu-dua episode tersendiri di kotamu. 

Dear Bandung,

Tetaplah bersemi.

Mungkin benar, Bandung diciptakan ketika Tuhan sedang tersenyum. :)




Tuesday, January 11, 2022

Review Taman Wisata Bougenville (Part 2)

Meneruskan post review part 1 yang sebelumnya..

Jadi di Taman Wisata Bougenville ini ada beberapa fasilitas yang bisa kita explore.. Ada beberapa yang perlu biaya tambahan dan hanya tersedia/dibuka saat weekend, yaitu Flying Fox dan Playground.. Luckily, waktu kemarin kita menginap itu kan bukan weekend, tapi kita bisa minta bukakan playground ke petugasnya (tetap bayar tentunya). 

1. Kolam berenang

Ada 2 buah kolam yang letaknya di dekat pintu masuk. Airnya dingiiiiiiinn bgt! Tapi ya seru-seru aja sih buat main.. ini foto kolam yang satu (letaknya lebih bawah), yang satu lagi letaknya di dekat cafe/resto, ada perosotan jga sih tapi ga setingggi ini, dengan air yang sama dinginnya. Untuk kolamnya sendiri mungkin lantainya agak kotor ya at some parts of pool, but that's still okay. Di sisi kanan foto yang dinding batu itu, itu bisa nyala jadi air mancur gitu dan kita bisa main2 disitu juga. 



2. Main di sungai

Kalau ga mau main di kolam tapi tetep main air, bisa banget! Orang-orang (apalagi orang-orang kota yang jarang banget main di air kyk kamiii) kuyakin bakal tergiur buat main di sungai itu. Airnya jernihhhh banget, mungkin lebih jernih dari air kolam haha.. arusnya ga terlalu deras, gak dalem, banyak batu2 besar kalau mau duduk-duduk sambil nyemplungin kaki doang, atau kalau mau sekalian berendem juga bisaaaa. Bisa jadi sarana buat ngenalin alam ke anak-anak juga, biar mereka punya pengalaman untuk main di kali.. kapan lagi ya kaan? 😁




3. Skywalk

Kalau disana namanya Taman Langit kalau ga salah. Semacam jembatan gitu buat jalan kaki. Sebenernya ga terlalu besar/panjang tapi cantik jembatannya dan juga viewnya bagus, menghadap ke Mooi Lake House. Di sisi kanan-kiri railing jembatannya ditanami pohon bunga (gatau namanya apa) jadi bagus gitu deh, hehe.. 



4. Playground

Playground outdoor ini luas, dengan beragam permainan: track sepeda, trampoline, ada semacam track permainan ketangkasan juga (duh apa ya namanya ini, liat di foto aja ya untuk lebih kebayangnya, hehehe), panjat tebing mini, perosotan/ayunan, permainan balok keseimbangan, dll hehe..

Anak-anak mah jangan ditanya, doyan banget disini ga mau kelar-kelar mainnya.. hahaha.. Oiya ini berbayar ya 25rb per anak per jam nya.. 




5. Flying Fox 

Flying Fox ini berbayar juga kalau ga salah 25rb juga. Lintasannya panjang yah gaes ngelewatin danau gitu hehe.. Bagus sebenernya tapi sayangnya ga kefoto. Kemarin beberapa saudaraku ada yang sempet main flying fox ini, tapi pas aku mau naik, petugasnya keburu pergi istirahat makan siang >.< 

6. Water lily pond (Taman teratai), Secret Island and Explore more..

Kita bisa mengeksplorasi kawasan ini lebih jauh sampai ke bagian belakangnya. Ada banyak yang bisa kita temukan disini: 

-Taman teratai, ada 2 ya, di sisi yang berbeda. Yang di deket secret island menurutku kurang terawat, walaupun lebih besar, 

-Secret Island, bener2 secret ni kayaknya, suamik, kaka ipar dan mertua pas jalan masing2 ga nemu dan sempet nyasar, wkwk. Disananya sendiri sebenernya ga ada apa2, ada banyak pohon bunga tapi ya lagi-lagi sepertinya akan lebih bagus lagi kalau lebih dirawat (atau konsepnya memang gitu? haha)

-di bagian paling belakang juga ada sawah-sawah.. Bisa banget bawa anak2 main di sawah hehe.. 

Note: Pakai sepatu yang nyaman sangat disarankan ya, areanya turun naik dengan jalanan berbatu dan tanah/rumput. 





Overall rate: Ok banget buat jadi tempat weekend escape! Aku saranin sih nginap semalam, bawa makanan buat makan malem, atau bisa juga pesen di cafe (maksimal pesen nya jam 4, tp bisa buat malem), kalau sarapan dikasih dari tempat villanya. Hehe. Enjoy Puntang!

Monday, January 10, 2022

Review Taman Wisata Bougenville (part 1)

Awal januari lalu kami sekeluarga berkesempatan untuk liburan bareng. Setelah lebih dari 2 tahun ga ngumpul bareng yang satu keluarga full, Alhamdulillah kemarin itu semuanya bisa (dibisa-bisa-in, lebih tepatnya, hahaha) (WFH lyfe, jadi selama 2 hari kmrn masing-masing kayaknya pada bawa laptop dan masih pada meeting 😁)

Liburan selama pandemi ini tentuuu aja banyak pertimbangannya. Kita prefer yang outdoor, private, dan nuansa alam. Biar ngerasa lebih secure aja, gitu. Dan bisa dijangkau oleh mobil ya dari Jkt dan Bdg. Akhirnya kemarin kita menginap di Taman Wisata Bougenville. Tempatnya di Soreang/Banjaran, tepatnya di kaki Gunung Puntang. Bisa cek Google maps ya untuk lokasi lebih akuratnya. Perjalanan dari Jkt/Bdg relatif gampang, karena sudah ada jalan tol yang keluar Soreang. Dari pintu tol soreang itu, kira-kira memakan waktu 45 menitan-1 jam an (kalau ga macet). Fyi jangan kaget kalau dari jalan raya itu trus naik ke atasnya (ke arah kaki gunung puntang) agak jauh, hehe.



Taman Wisata Bougenville konsepnya seperti menyatukan alam dengan buatan gitu. Jadi disana ada kita bisa bermain di kolam ernang (ada 2 kolam dengan perosotan), ada sungai kecil yang pinggirnya memang didesain supaya kita bisa main air dan duduk-duduk disana, ada playground outdoor juga (bagus banget playgroundnya), ada skywalk, flying fox, atau kita juga bisa menjelajah alam di sekitar kawasan wisata bougenville yang luas banget. We'll talk about these details in the later post :) 

Di Taman Wisata Bougenville ini kami menyewa villa untuk sekeluarga besar. Ada beberapa tipe villa disini, yang ukuran big family, trus yang villa kayak kamar2 gitu, sama yang terdebest sih Mooi Lake house. Kebetulan kami nginep 2 malam, dan pindah villa, krn villa yg kita pengen itu sdh disewa orang pas hari pertama. 



Villa Puspa


-Villa pertama, Rasamala, tempatnya di depan (pas pintu masuk). Villa nya 3 kamar, 2 km, dapur.  kamar pertama dibawah isi 2 kasur, kamar kedua dibawah isi 3 + 1 kasur, kamar ketiga diatas isi 9 kasur, tipenya kayak kamar2 di bungalow2. Plusnya: ada tempat ngumpul (indoor) yg besar di lantai 2. Minusnya: krn letaknya di depan, jadi rada jauh kalau ke sungai/playground.  

-Villa Kedua, Puspa, tempatnya di tengah-tengah gitu, dekat sungai. ada satu rumah utama, satu paviliun, dan ruangan dapur terpisah. Di Rumah utama, lantai satu sekitar 5 bed, di atas bisa sekitar 5 bed jg, dengan 1 km. di paviliun, bisa 4 bed, dan 1 km. di dapur ada kamar mandi juga. Plusnya: lebih deket kemana-mana, minusnya: tempatnya kurang private karena jadi jalur umum yang dilewati orang-orang juga. Untuk harga, bisa cek di online ya karena harga pas lowseason dan highseason kemaren berbeda, hehe. 

Kalaupun ga nginap, bisa juga kok untuk datang kesini. Pas kita datang itu kan hari Minggu, jadi cukup banyak orang (karena lagi musim liburan sekolah juga kali ya). Ada banyak saung-saungan yang tersebar di kawasan ini. Kalau ga salah, masuknya sekitar 30-35rb gitu. Bisa banget bawa botram makanan, kemarin juga kulihat gitu, ada yang datang pagi-pagi trus literally bawa baskom makanan haha.. seru juga sih kayaknya. Ohiya pilihan makanannya memang terbatas ya, ga banyak jajanan kalau di dalamnya, tp ada cafe/restonya, harganya masih reasonable sih. Kalau di luarnya banyak warung2 gitu. hehe. 

Please note kalau di kawasan ini sama sekali ngga stroller atau wheelchair friendly. Jalan setapaknya dari batu-batu gitu ga rata, dan medannya naik-turun gitu. Kalaupun nginap, aku saran mending bawa tasnya yang kecil2 (kayak koper cabin size gitu) krn kmrn aku kebiasaan cuma bawa 1 koper medium kan biar ringkes, ya ampun lumayan juga bawa dari Villa Puspa sampai ke parkiran. Pakai sepatu atau sendalnya juga yang enak ya, flat shoes or sandals are not recommended apalagi kalau mau ngejelajah kawasannya.  

Bersambung ke blogpost selanjutnya yaa 😉


Morning view




Friday, January 7, 2022

si mamah gajah yang baru mulai ngeblog (lagi)

Sesuai dengan judulnya, dan juga sepertinya sudah kutulis di post-post sebelum ini, ku akhirnya memulai  lagi blogspot ini.. Dan pas banget ketika baru mulai ngeblog, ternyata ada sub-community nya di komunitas Mamah Gajah. hehe.. sejujurnya udah lama banget ga buka FB sebagai main page nya ITBMotherhood alias Mamah Gajah.. tapi skr sepertinya IGnya ITBMH juga udah ramai dan banyak info.. btw.. kalau yang baca blogpost ini dan ga familiar dengan istilah Mamah Gajah, please bgt yah ini tuh maksudnya bukan Mamah dengan bentuk badan seperti gajah (walaupun ini sepertinya badanku udah kayak gitu, huhu.. pil diet mana pil diet 😁) tapiii kita-kita ini mamah-mamah alumni ITB yang lambangnya gajah.. 

Waktu yang aku habiskan di kampus ganesha ini hmm ngga bisa dibilang sebentar ya kayaknya.. Masuk 2005, dan baru keluar tahun 2018 haha.. lama banget guys dari masih single, kawin sampai punya anak 1.. Ga tau antara ga bisa move on dari kampus gajah atau terjebak disana, beda tipis sih emang hahaha.. Ada waktu up and down di setiap stage kampus pastinya, tapi overall aku bersyukur dengan pengalamanku selama ini disana.. Kalau emang ada kesempatan pengen banget sih balik lagi ke sana, kuliah lagi sambil siapa tau jurusan nerima dosen baru ya kaan.. hehe

Kalau ditanya kerjaanku sekarang ngapain, well aku kerja di rumah, jadi ibu rumah tangga. From the very start I know it wasn't an easy decision, but I choose my priority. Sedikit cerita, dari nikah sampai aku lulus kuliah itu, sekitar 5.5 tahun lah, aku dan suami selalu LDM an. Jadi ketika lulus itu, ok that's enough for LDM life, kesian si anak bayik jarang banget ketemu bapaknya sedangkan sepupunya ketemu bapaknya tiap hari, mungkin dia pengen jg kayak gitu dan aku ga mau dia keilangan masa-masa golden age nya dengan bapaknya jauh di rantau. Consequences? yah hahaha tentunya ya kayaknya sampai sekarang juga masih berkutat dengan kegalauan, antara pengen balik lagi jadi researcher tapiiii di satu sisi semakin lama di rumah, semakin ga pede karna ilmunya kayaknya semakin menguap, yang ada mah jadi researcher resep aja haha nyobain resep resep masakan yang baru 😄Aku tau ni kayaknya bakal banyak mamah gajah yang profesinya irt bakal relate ama yang aku rasain sekarang, haha.. Toss dulu ah, mah!

Awal-awal mutusin untuk di rumah aja dan ketika orang tau latar belakang pendidikanku, rata-rata nanya nya: 

'Ga sayang sama ilmunya?'

'Kenapa ga jadi dosen aja?'

endebra endebre.. hehee.. untungnya yah mungkin aku mah sedikit lempeng, jadi cuek weh.. kalau ada orang yang ngomong kayak gitu dengan nada yang ngga mengenakkan, yang kupikir mah 'Do they pay my bills? Do I own them something? Do they really care?' Kalo ngga mah yah.. udah lah lewatin aja masuk kuping kanan keluar kuping kiri.. Mungkin bisa dicoba yah Mah tips ini kalau ada orang yang bergunjing *ceileh bergunjing* jangan dibawa baper yah Mah!

Tapi salah satu pelajaran dari kuliah selama itu di kampus gajah adalah: jangan takut untuk salah. Trial -and error- is part of succes. Yang penting kita terus coba to do better, kita perbaiki kesalahan, sampai akhirnya bisa jadi berhasil -atau mencapai target yang diinginkan- in every aspect of life. Pun dalam pengajaran anak, i love it when my child fails at his first attempt of doing his experiment. Somehow aku ngerasa belajar untuk kegagalan -dan menerima kegagalan itu- -dan yang lebih penting lagi, bangkit dari kegagalan dan mencoba melakukan eksperimennya lagi sampai berhasil- penting dan akan lebih membuat dia kuat di masa depannya nanti. just my thoughts, though, hehe 

Last from this blogpost is.. I'm proud and love to be part of Kampus Gajah 💗 

Postingan kali ini dalam rangka meramaikan Tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog , hehee..

Yuk Mah, kita ngeblog bareng di Mamah Gajah Ngeblog (MGN) :)