Wednesday, May 11, 2022

Bumbu kacang yang membumi

Rasa-rasanya, kuliner di Indonesia khususnya di Pulau Jawa ini banyak yang menggunakan kacang sebagai bahan utama sausnya. Sebut saja, sate, pecel, siomay atau baso tahu, batagor, dan terkadang juga saus kacang bisa kita temukan sebagai pelengkap berbagai makanan gorengan. Mungkin, hal ini ada kaitannya karena 3 provinsi penghasil kacang tanah terbesar berada di Pulau Jawa, sehingga kacang tanah akan menjadi mudah dan murah untuk ditemukan disini. 

Di berbagai provinsi di Pulau Jawa pun, memiliki kekhasan atau ciri tersendiri dalam olahan bumbu kacangnya. Meskipun bahannya mungkin beda-beda tipis saja, tapi bahan dasarnya tetap sama: kacang tanah. 

Mengutip dari wikipedia:

"Bumbu kacang Indonesia menggambarkan citarasa yang canggih dan membumi, bukan sekadar saus manis dan kental seperti kebanyakan saus kacang di tempat lain. Kacang tanah tumbuh subur di iklim tropis Asia Tenggara. Kini dapat ditemui dicincang halus, dan menjadi taburan di atas berbagai hidangan atau sebagai saus celup. Bumbu kacang mencapai tingkat palng rumit dan canggih di Indonesia, dengan keseimbangan citarasa yang halus yang didapat dari berbagai bahan tergantung resep bumbu kacang tersebut; kacang tanah goreng, gula jawa, bawang putih, bawang merah, jahe, asam jawa, air jeruk nipis, serai, sambal, cabai, merica, kecap manis, semuanya dicampur air matang agar mencapai tekstur dan kekentalan yang tepat"

   
Berhubung saya adalah orang Sunda yang besar di Jakarta, dan a big lover of peanut, saya punya beberapa makanan favorit yang memadukan antara gurihnya bumbu kacang dan kesegaran sayuran, yaitu:

1. Ketoprak Jakarta

ketoprak abang-abang yang lewat depan rumah.
menu sarapan favoritku di jkt!

Ketoprak jakarta ini memadukan ketupat, tahu putih goreng, toge rebus, bihun, dan tentunya tak lupa bumbu kacang dan kerupuk. Terkadang diberi tambahan potongan timun atau di beberapa tempat diberi tambahan telur dadar. Uniknya dari ketoprak (abang-abang yang lewat) ini, saus kacangnya dibuat di piringnya langsung. Menggunakan kacang tanah yang sudah dihaluskan, potongan bawang putih dan cabai, dan ditambah dengan air asam. Tekstur bumbunya biasanya halus dan rasanya cenderung asin gurih. Bisa ditambah kecap manis dan bawang goreng sebagai pelengkap rasa. Biasanya disajikannya belum diaduk sama abangnya, seperti difoto atas ini.

Saking doyannya sama ketoprak, dulu pas tinggal di Balikpapan mah sampai bela-bela in bikin sendiri karena dulu pas awal-awal tinggal disana, jaraaang bgt yg jualan ketoprak yang rasanya seperti yang dijual abang-abang yang lewat depan rumah, hihihi

2. Lotek Bandung

Lotek Bandung.
sumber foto dari sini.

Satu hal rasa yang paling dominan atau ciri khas dari lotek bandung adalah: rasa cikur (kencur)! 
Rasa inilah yang membedakan rasa lotek bandung dengan makanan sejenis seperti gado-gado jakarta atau pecel. Biasanya bumbu kacang dari lotek Bandung agak bertekstur kasar bila dibandingkan dengan ketoprak, dan terasa asin gurih dan terasa kencurnya. Untuk penyajiannya biasanya aneka sayuran dan juga potongan tahu, tempe dan lontong diaduk di cobeknya langsung, dilengkapi dengan potongan telur rebus dan taburan bawang goreng dan kerupuk. hmmmmm yummy!


3. Gado-gado Tengku Angkasa, Bandung

Gado-gado Tengku Angkasa
Sumber foto dari sini.

Gado-gado Tengku Angkasa mah udah jadi makanan favorit keluargaku selama puluhan tahun. Pertama kali kesini sepertinya sewaktu masih kecil, dan tetap jadi gado-gado terfavorit sampai sekarang. Ada di jalan Tengku Angkasa, Bandung, dekat dari dago dan ITB. Sayuran rebus yang digunakan antara lain kol rebus, tauge, kentang, tahu putih, lontong, dan selada fresh, Untuk tampilannya, seperti gado-gado siram surabaya karena saus kacangnya memang langsung disiram diatasnya sayuran. Ditambah dengan pelengkap telur rebus, bawang goreng dan kerupuk. Tekstur saus kacangnya ini halus dan creamy, bumbunya melimpah. Rasanya agak manis dan gurih, enakkkk banget. 

Satu porsinya ini banyak bangetttt ya, untuk orang yang makannya sedikit mah mending pesan satu porsi untuk berdua. Di Gado-gado Tengku Angkasa ini juga ada nasi Rames yang banyakkk menunya dan enak-enak juga. Sayang pas mudik kemarin warungnya masih tutup, jadi ga bisa beli ini huhu

Selain ketiga makanan ini, masih banyak lagi makanan berbumbu kacang yang jadi ciri khas kota Bandung dan Jakarta, seperti karedok yang menggunakan sayuran mentah, atau gado-gado jakarta yang menurutku mirip lotek hanya minus rasa cikur, hehe

Sambil nulis jadi laper dan kabita pengen makan bumbu kacang, hehe. 
Yuk ah mah, mumpung abis mudik dan ikut tantangan blogging mamah gajak ngeblog bulan ini, share yaah biasanya di kota kalian punya makanan berbumbu kacang apa? :)




Tuesday, April 19, 2022

Menatap Senja

Dalam satu hari, sore merupakan waku favoritku. 

Ketika panasnya siang sudah mulai mereda, ketika semilir angin sepoi yang menyejukkan bertiup, ketika cahaya mulai temaram dan matahari mulai bergulir bersiap untuk tergantikan oleh kehadiran bulan.

Ketika rutinitas yang biasanya padat di pagi dan siang hari mulai usai dan ketika anak-anak komplek bermain berlarian di depan rumah-rumah. 

Dongakkan kepala dan lihatlah ke atas, betapa langit begitu luas, kadang dipenuhi awan beraneka bentuk, kadang seperti canvas kosong berwarna. Semburat jingga yang dipancarkan oleh matahari terbenam dipadu dengan birunya langit di kejauhan. Sering ku terbenam dalam pikiran, bagaimana rasanya bisa terbang ke atas sana, mengarungi keagungan itu dalam kesendirian, sunyi, sepi, dan mungkin menenangkan. 

Kualihkan pandangan ke bawah, dan melihat bunga-bunga liar kecil yang bertahan hidup tanpa ada yang menyemai. Namun sama indahnya dengan bunga-bunga mahal yang berharga puluhan atau ratusan ribu. Rumput-rumput dan pepohonan yang bergoyang ditiup oleh angin, seakan menari-nari pelan.

Menikmati senja mungkin merupakan waktu healingku dalam satu hari. Sejenak melepaskan diri dari kepenatan yang terjadi sedari pagi dan sekedar menarik napas untuk menyadari keindahan-keindahan yang diberikan sang Pencipta.


Pemandangan senja di komplek rumah sewaktu di Balikpapan,
tempat healingku selama pandemi melanda.
Langit Balikpapan yang selalu kurindukan :)

***

Ada satu lagu yang dulu dikenalkan oleh teman yang sering masih terngiang ketika sore hari tiba. Don't judge first because it's idol who sings it, but it has a good lyrics anyway, 

Lirik dari JKT 48 Apakah Kau Melihat Mentari Senja.

Merasakan angin di saat musim berganti
Dan menyadari bunga di sebelah kaki
Jika dapat mensyukuri keberadaan kecil itu
Kita dapat rasakan kebahagian


Apakah kau melihat langit mentari senja
Waktupun berlalu dan sosoknya
Terlihat begitu indah yes
Begitulah hari ini berakhir
Malam yang mengulang baru
Semua telah datang


bunga putri malu

***

Menatap langit, menikmati semilir angin, merasakan dan mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi di sekeliling pada waktu senja tiba merupakan aktivitas yang kutunggu, bahkan kuperlukan. Walaupun tetap membersamai anak-anak bermain bersama teman-teman, kuluangkan waktu sekedar 5 menit untuk fokuskan diri kepada keheningan dalam diri. Setelah seharian bergulat dengan kehidupan di rumah yang penuh dengan bising, kuperlukan kesunyian itu untuk mengisi ulang stok kesabaran dalam menghadapi sisa hari. 

Pun ketika dulu masih bekerja di kampus, kusempatkan waktu sesaat untuk duduk diam di taman kampus sebelum pulang, karena ku tahu bahwa tidak ada lagi waktu menjadi 'aku' ketika sampai di rumah nanti. Agar ku bersiap untuk berganti peran menjadi ibu, istri, atau menantu. Sekadar (lagi-lagi) menatap langit, membaca beberapa halaman buku, atau memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di jalan sambil menerka-nerka, apa yang sedang ada dalam pikiran mereka sore ini?


Semburat senja jingga


***

Akan kuajak dirimu wahai pembaca untuk menikmati senjamu hari ini. 

Apakah kau sudah melihat langit?

Apakah kau sudah merasakan semilir angin?

Apakah kau dapat menemukan bunga-bunga liar di sekitar trotoar yang mungkin biasanya luput dari pandangan matamu ketika berjalan?

Apakah kau sudah memberikan waktu kepada dirimu sendiri hari ini?

Mari kita lihat. Mari kita temukan. Temukan langit, angin, bunga, dan waktu. Mari kita syukuri keberadaan mereka agar kita dapat mensyukuri keberadaan kita dan keberadaan apa-apa yang kita miliki. 

***

Sore ini hujan. Tidak mengapa. 

Entah itu cerah, mendung, hujan, akan kunikmati sore ini seperti sore-sore sebelumnya. 

***

Tulisan ini dibuat untuk memenuhi Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April.

Selamat menikmati senja, Mamah :)












Thursday, March 31, 2022

Disabilitas, dulu dan sekarang

 Mengutip dari KBBI, disabilitas mempunyai arti:

  1. n keadaan (seperti sakit atau cedera) yang merusak atau membatasi kemampuan mental dan fisik seseorang
  2. n keadaan tidak mampu melakukan hal-hal dengan cara yang biasa.

Ada banyak hal yang termasuk dalam disabilitas. Menurut UU no.8 tahun 2016, terdapat 5 kategori untuk disabilitas, yaitu disabilitas fisik, intelektual, mental, sensorik, dan disabilitas ganda atau multi. Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 30 juta jiwa atau lebih dari 14% dari penduduk Indonesia yang menyandang disabilitas (menurut data Susenas pada tahun 2018, sumber disini.)

Sebagai anggota keluarga dari seorang penyandang disabilitas (autisme) dan keluarga dari yang pernah mengalami patah kaki sehingga harus berada di kursi roda selama beberapa bulan, ada beberapa hal yang mau tidak mau, teramati. Dulu dan sekarang, ada beberapa hal yang berubah, namun ada juga beberapa hal yang sekiranya masih sama. 

Informasi mengenai disabilitas

Seiring dengan kemajuan teknologi, informasi yang didapatkan mengenai beragam disabilitas pun lebih mudah didapatkan. Tinggal mengetik keyword di Google, kita akan mampu mengetahui gambaran secara umum mengenai disabilitas masing-masing. Contoh, bila kita mengetik keyword 'autisme' maka akan keluar gambar di bawah ini:



Walaupun diagnosis yang terperinci harus melalui dokter yang kompeten, namun dengan kemudahan teknologi seperti ini kita akan dapat membaca sekilas apabila ada tanda-tanda disabilitas yang terjadi pada diri atau kerabat, agar dapat mendiskusikannya dengan dokter. Hal ini merupakan suatu kemewahan bila dibandingkan dengan sulitnya mencari informasi mengenai disabilitas 20 tahun silam. Mencari dokter yang kompeten, ataupun komunitas pensupport disabilitas pun harus melalui informasi mulut ke mulut, karena tidak ada atau jarangnya media yang memberikan informasi seperti ini.  

Terapi

Sama seperti mencari dokter atau informasi yang akurat mengenai beragam tipe disabilitas seperti yang telah disebutkan di atas, mencari tempat untuk terapi pun tak kalah sulitnya. Bila sekarang ada banyak sekali tempat terapi, bahkan ada yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah saja, namun tidak dahulu. Dulu 20-10 tahun yang lalu, kami harus sampai ke Bogor untuk menjalani terapi. 

Namun dalam masalah terapi ini, ada satu kesamaan yang dirasakan dari dulu maupun sekarang. Terapi ini membutuhkan banyak biaya. Tergantung dari tipe disabilitas yang disandang, jenis terapi pun berbeda-beda. Frekuensi kedatangan pun berbeda-beda, mengacu pada kondisi masing-masing. Karena itu, banyak orang tua yang memiliki anak disabilitas namun tidak memiliki finansial yang cukup tidak membawa anak-anaknya ke dokter atau ke terapis. Seharusnya (dan harapannya), terapi-terapi ini dapat ditanggung oleh pemerintah (misalnya dengan mempekerjakan terapis di puskesmas atau rumah terapi khusus pemerintah, dsb), agar terapi dapat didapatkan secara merata, bukan hanya ornag yang berfinansal baik saja. 

Contoh harga terapi, sumber dari sini.




Fasilitas pendukung di tempat umum

Bila berbicara tentang fasilitas pendukung di tempat umum untuk penyandang disabilitas di Indonesia, tentu kita kalau jauh dengan negara-negara maju misal Singapura. Hal ini tidak begitu dirasakan oleh kita yang dapat berjalan, melihat atau mendengar dengan baik. Namun bila kita menggunakan kursi roda, kemungkinan besar kita tidak dapat mandiri ke tempat umum dengan menggunakan transportasi umum. 

Contohnya: Undakan kecil pada trotar saja sudah sangat menyulitkan pada pengguna kursi roda. Sayangnya, banyak trotoar yang tidak dilengkapi dengan jalur khusus (yang landai) untuk pengguna kursi roda. Trotoar yang ada pun banyak yang tidak memiliki jalur khusus untuk penderita tuna netra (jalur yang bertekstur), sehingga penyandang tuna netra harus berhati-hati bila berjalan di trotoar. 

Begitu pun dengan tranportasi umum, yang tidak atau kurang mendukung untuk pengguna kursi roda. Pengalaman yang berkesan ketika saya pergi ke Jepang dan melihat ada seseorang yang menggunakan kursi roda dan akan menaiki bus kota. Ketika bus sampai di halte, sopir dari Bus turun, mengeluarkan papan untuk akses semacam jembatan dari halte menaiki bus, dan orang-orang yang di dalam bus pun tidak menggerutu (ya, karena lumayan memakan waktu 3-5 menitan untuk naik busnya, dan orang Jepang sangat peduli dengan waktunya) dan memberikan ruang untuk kursi roda. Semoga transportasi di Indonesia juga dapat bisa memfasilitasi seperti itu ke depannya.

sumber foto


Memang di beberapa tempat telah tersedia fasilitas penunjang seperti lift, namun sayangnya, masih kurangnya kesadaran dari banyak orang yang bukan haknya memanfaatkan fasilitas tersebut sehingga akhirnya fasilitas tersebut dicabut atau menjadi rusak.

Pandangan dari masyarakat

Tentang ini, saya tidak begitu yakin apakah berubah, ataukah sama. Di satu sisi, seiring dengan perkembangan informasi, orang jadi mengetahui bahwa disabilitas itu bukan sesuatu yang harus dipermalukan. Dulu ketika mendengar kata autisme, mungkin dianggap tabu atau aib, atau disamakan dengan orang gila. Namun banyak orang, terutama kaum muda dan berpendidikan yang terjangkau informasinya dan memiliki toleransi tinggi, welcome dengan orang-orang dengan kondisi tersebut.

Tapi di sisi lain, banyak juga yang menganggap autisme sebagai lelucon. Bahkan menjadi momok atau panggilan kepada orang-orang yang tidak mau (bukan mampu) bersosialisasi. Untuk yang tidak terjangkau informasi seperti ini, ya saya hanya menganggap bahwa mereka tidak tahu saja. 

Contohnya, ketika sedang berada di tukang nasi uduk, kebetulan berbarengan dengan sebuah keluarga yang anaknya, saya rasa, berkebutuhan khusus. Anak tersebut ditawari kerupuk oleh tukang nasi uduk, tetapi anaknya tidak mau dan akhirnya orang tuanya yang mengambil kerupuk tsb dan memberikannya ke anaknya, namun anaknya memasukkannya lagi ke dalam kaleng kerupuk. Ketika keluarga tsb sudah pergi, tukang nasi uduknya berbicara pada saya, 'Anaknya kayak idiot ya,'. Saat itu, saya hanya bilang bahwa mungkin anaknya berkebutuhan khusus dan berusaha memaklumi bahwa mungkin, tukang nasi uduk ini tidak pernah tahu apa itu autisme, down syndrome, dsb. 

Saya menaruh banyak harapan untuk perubahan yang lebih baik untuk para penyandang disabilitas. Terutama dari sisi-sisi yang telah dijabarkan di atas. Ingat, bukan pilihannya mereka untuk mau menjadi disabilitas. Maka dari itu, kita harus support agar mereka dapat hidup dengan normal dan mandiri. 

Opini tentang disabilitas ini dibuat dalam rangka Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog. 
Semoga dapat membuka sudut pandang lain mengenai disabilitas. :)