Tuesday, July 18, 2023

Triple B: Bandung, Balikpapan, Bekasi

Jika membicarakan tentang daerah asal, ketiga kota yang kebetulan berinisial sama yaitu huruf B menjadi kota yang masing-masing menjadi 'Rumah' untuk setiap fasa kehidupanku.

Ketiga kota ini sama-sama penting, sama-sama nostalgic, sama-sama mempunyai cerita. 

****

Bandung

Kota kembang ini adalah awal mula kehidupanku sebagai manusia. Ya, aku lahir di Bandung, kota yang berhawa sejuk di ketinggian sekitar 700 mdpl. Yang menjadi memori masa kecilku yang selalu terkenang adalah kota ini menjadi tujuan ketika mudik Lebaran. "Jangan lupa bawa sweater," ujar mama kepadaku setiap kali kami akan berangkat mudik naik mobil melewati jalur Puncak. Aku sewaktu kecil sangat gembira dan tak sabar ingin bertemu dan berkumpul dengan sepupu-sepupu yang jumlahnya sangat banyak itu. Maklum, keluarga mamaku keluarga besar dengan 11 orang kakak/adik. Persis seperti yang ada di meme atau gambar yang banyak dibagikan ketika menjelang lebaran, dimana di rumah Nenek kasur-kasur berjajar di ruang tengah dan kami tidur disana beramai-ramai. Ketika selesai dari shalat Ied, tradisi bersalam-salaman membuat 'ular naga' yang panjangnya bukan kepalang.  Paling asyik kalau sudah tiba waktunya bagi-bagi uang lebaran, para persepupuan ini akan mengantri dari yang paling muda sampai paling tua. Wah, berasa jadi orang kaya mendadak! Dengan dompet tebal penuh uang baru, kami para sepupu ini suka berjalan-jalan naik angkot Cisitu-Tegallega ke Cihampelas sambil melihat patung superhero di sepanjang jalan ini sebelum kami ganti angkot ke BIP atau ke Kings. Seru sekali dan jadi kenangan masa kecil yang sangat menyenangkan :)

Bandung mulai menjadi kota tempat tinggal dan bukan sekedar tempat mudik pada tahun 2005, ketika kumasuki dunia perkuliahan di kampus gajah tercinta. Walaupun aku sering sekali datang ke Bandung, tapi rasanya sangat berbeda dengan ketika tinggal di tempat kos bersama dengan teman-teman satu SMA yang sama-sama masuk ITB. Masih teringat bagaimana rasa dinginnya Bandung ketika pertama kali masuk kampus untuk mengikuti OSKM, bercampur antara hawa Bandung pagi hari yang memang dingin dan juga tatapan dingin para kakak tingkat. Bandung yang penuh warna, tempat belajar untuk mandiri dan bertahan hidup. Tempat untuk berteman dengan banyak orang dan banyak latar, dan juga bermain,berjalan-jalan dan berpetualang dengan teman-teman di kampus. Maklum, sewaktu SMA cuma kenal sekolah-tempat les-rumah :p

Di kota ini pula lah aku memulai kehidupanku dalam berumah tangga 11 tahun yang lalu. Pak suami -yang seangkatan dan sejurusan- kebetulan orang Jawa yang tinggal dan besar di Bandung. Keluarga besarku pun banyak yang tinggal di Bandung sehingga kami putuskan untuk menikah dan resepsi di Bandung. 'Rumah' pertama kami berada di kota ini. Rumah kontrakan sederhana yang menjadi saksi LDM bertahun-tahun, haha. Rumah ini juga menjadi tempat kami pulang bersama dengan Kakak yang baru lahir 8 tahun lalu. Walaupun sekarang rumah tersebut sudah dirobohkan, tapi kenangannya tetap di hati.

***

Balikpapan

Semenjak Pak suami pulang dari Perancis dan mulai bekerja di kota minyak ini sekitar tahun 2013, kami memulai LDM domestik selama hampir 5 tahun. Lumayan, beda waktunya hanya 1 jam dengan di Bandung ataupun Jakarta. Di kota ini kami mulai dari Nol -seperti slogan sewaktu sehabis mengisi bensin- mulai dari tinggal di tempat kos-mengontrak-sampai alhamdulillah tinggal di 'Rumah' pertama kami sendiri.

Balikpapan kota beriman merupakan kota yang sangat nyaman untuk ditinggali. Kebanyakan warga yang tinggal di Balikpapan adalah warga perantau yang pindah ke kota ini karena bekerja. Kota ini sendiri tidak terlalu besar, namun cukup lengkap untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Memang mall yang ada di Balikpapan tidak sebanyak seperti di Jakarta ataupun Bandung, namun seperti kebanyakan kota pesisir lainnya, para warga banyak yang memilih untuk menghabiskan akhir pekan di pantai-pantai seperti Pantai Patra, Kemala, Batakan dan Lamaru, atau di lapangan Merdeka yang selalu ramai.  Bagi keluarga kami sendiri, tinggal di Balikpapan sungguh less-stress dibanding dengan kehidupan di Bandung ataupun Jakarta, dimana lalu lintas tidak sepadat itu dan juga letak antar lokasinya yang tidak jauh. Yang pernah tinggal di Balikpapan pasti merasakan bagaimana nyamannya kota ini dan akan terkesan dengan kota yang jalan-jalannya sangat bersih. 

IKN atau ibukota negara baru juga rencananya akan ditempatkan di Samboja, yang otomatis Balikpapan akan menjadi kota atau gerbang masuk untuk menuju IKN. Seiring dengan itu, pembangunan di kota Balikpapan pun semakin maju pesat dan semakin lengkap. Jangan salah dengan pemikiran 'Kalimantan itu cuma hutan', asal tahu saja bahwa biaya hidup di kota Balikpapan itu mahal, hampir setara Jakarta (atau bahkan lebih mahal ya?) yang bahkan diriku terkaget-kaget sewaktu pertama kali ke Balikpapan dan berbelanja sayuran. Pernah yang kuingat, satu ikat sayuran hijau mencapai harga 20ribu di pasar.

Walaupun Balikpapan memang merupakan kota perantauan kami, tapi bagi kami Balikpapan selalu menjadi rumah bagi kami, apalagi bagi si Adek yang lahir di kota ini. Si Anak Kalimantan, hehe. 

****

Bekasi

Akhirnya, kembalilah aku ke kota ini. Walaupun Bandung adalah kota kelahiranku, tapi di Bekasi ini lah kuhabiskan masa kecil sampai SMA di rumah orang tuaku. Walaupun aku lebih suka bilang bahwa rumahku di Jakarta (jika yang bertanya adalah orang dari luar jakarta) atau Cibubur (jika yang bertanya adalah orang Jakarta), tapi secara administratif, rumah orang tua masuk dalam Kota Bekasi. Setelah kutinggalkan untuk kuliah 2005 silam, tahun 2021 kami kembali ke kota ini. 

'Rumah' yang sekarang menjadi rumah kami berada persis di seberang rumah orang tuaku. Walaupun suasana di Cibubur sudah jauh berbeda dengan banyaknya pembangunan dan perkembangan di sana-sini, rasanya komplek rumahku ini masih sama suasananya dengan ketika aku masih kecil dulu. Alhamdulillah yang dulu kulakukan sekarang dilakukan oleh anak-anakku, yaitu bermain bersama dengan teman-teman di jalanan depan rumah. 

****

Inilah ceritaku tentang daerah asalku untuk Tantangan Blogging Mamah Gajak Ngeblog bulan Juli ini. Semua yang terjadi di kota-kota tersebut turut serta membangun diri menjadi diriku sekarang ini. Semua menjadi 'Rumah' bagiku dan keluargaku, dengan perannya masing-masing :)



 

Friday, June 2, 2023

Komikku Duniaku

Bicara tentang masa kecil, tentu ada banyak hal yang dapat diceritakan. Ketika beban hidup masih berupa pe-er atau ulangan matematika esok hari, hehe. Ingatan masa kecil kebanyakan orang akan membekas dan sedikit banyak akan menjadikan diri kita sekarang. Tema tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini dari mamah Sistha sukses membuat nostalgia. Kuputuskan untuk menulis tentang sesuatu yang sangat akrab denganku dan menjadi keseharianku sewaktu kecil: Komik



Hiburan untuk anak-anak di generasi 90an itu terbatas di komik, menonton kartun di televisi, atau bermain bersama teman-teman di lapangan. Tidak bisa dibandingkan seperti sekarang dimana internet, youtube dan game online yang sangat mudah diakses, playground yang bertebaran dimana-mana, dan sebagainya. Uang jajan pun terbatas, sehingga harus pintar-pintar menyisihkan uang untuk membeli mainan atau komik. Waktu SD dahulu, komik hanya seharga 5500 rupiah, kemudian naik menjadi harga 6500 sewaktu SMP, naik lagi menjadi 7500, 8500 dan seterusnya.. Sampai sekarang, harga komik seharga 25.000 keatas. Jadi gampang saja sebetulnya kalau mau melihat inflasi, lihat saja harga buku komik yang semakin naik,hehe

Komik sewaktu kecil dulu didominasi oleh komik dari penulis Jepang, yang disebut Manga dan penulis Mangaka, terbitan dari Elex Media Komputindo. Komik yang paling familiar dan hampir semua orang di Indonesia tahu, tentu saja Doraemon. Bahkan, menonton kartun Doraemon di RCTI di hari minggu pukul 08.00 WIB pagi sudah menjadi 'keharusan' tersendiri bagi anak-anak gen90an. Komik dan kartun Doraemon ini membuat imajinasi sewaktu kecil menjadi sangat berkembang dan menginspirasi untuk membuat ciptaan-ciptaan seperti alat-alat Doraemon. Well, yang dibutuhkan seorang anak itu adalah imajinasi yang luas tanpa batas, bukan?

sumber

Komik lain yang populer di gen90an adalah komik serial cantik. Komik-komik ini adalah komik lepasan (satuan) yang berkisah tentang percintaan yang ringan. Masih cocok lah dibaca untuk anak SD SMP yang mulai mengenal cinta monyet. Komik serial cantik kesukaanku berjudul 'My Best Rival is My Best Friend'.

sumber


Salah satu komik serian yang paling membekas di hati adalah komik Harlem Beat. Komik ini mengisahkan tentang orang-orang yang tergabung di klub basket di SMA. Cerita tentang persahabatan dan kerja keras sangat tergambarkan oleh tokoh-tokoh disini. Kita juga jadi tahu banyak hal tentang basket. Ratingnya kuberi 9.5/10. 

sumber

Saking sukanya dengan cerita di Harlem Beat, aku menjadi penggemar berat penulisnya yaitu Yuriko nishiyama dan akhirnya membaca serial lainnya terbitan beliau yaitu Sylphid. Hari terbitan komik baik Harlem Beat mupun Sylphid menjadi hari yang selalu ditunggu, dan dengan hati riang selalu bolak-balik ke Indomaret yang dulu juga menjual komik dan majalah, menunggu komik tersebut dipasang di rak. 

sumber

Serial tokoh dunia juga menjadi favorit di kala kecil. Dengan membaca komik ini, kita juga jadi bisa belajar sejarah dan biografi dari penemu-penemu yang termahsyur di dunia. Buku ini sepertinya sudah tidak diproduksi lagi, padahal menurutku buku ini masih cocok untuk dijadikan komik pembelajaran bagi anak-anak jaman sekarang.

sumber


Komik masa kecil yang sampai sekarang masih terbit adalah Hai, Miiko. Komik yang berisi cerita ringan tentang kehidupan sehari-hari ini sangat kusukai, mulai dari penggambarannya, tokoh-tokohnya, ceritanya, maupun lelucon-leluconnya. Komik Hai Miiko juga aku perkenalkan ke anakku karena cenderung 'aman' untuk anak SD. Pssst, Miiko sekarang sudah SMP loh!



Sayangnya sekarang komik-komik koleksi sewaktu masa kecil sudah tidak ada, karena dihibahkan dan karena 'dibereskan' sewaktu mulai kuliah dan pindah dari rumah. Namun, ternyata banyak komik-komik jadul yang dijual di toko buku bekas, jadi ingin mengkoleksi lagi buku-buku komik yang dibaca sewaktu jaman dulu, hehe. Kalau kalian, suka baca komik apa sewaktu kecil dahulu? 


Wednesday, May 31, 2023

DIY wall moulding ala Bapak and kiddos

Beberapa pekan lalu, paksuami dan anak-anak berDIY memasang wall moulding untuk kamar tidur kami. Sebetulnya ide untuk memasang moulding ini sudah ada dari semenjak renovasi rumah (sekitar 1,5 tahun lalu) dan baru terealisasi sekarang, hehe.. 

Wall moulding atau yang dikenal juga dengan wall panel atau batten wall akan membuat suasana ruangan menjadi lebih indah dan mewah. Melakukan wall moulding sendiri sebenarnya tidak terlalu sulit, dan dapat menjadi kegiatan dalam membangun bounding dengan keluarga. Untuk budget pun dapat menyesuaikan dengan kebutuhan atau desain moulding itu sendiri. Bahan-bahan yang dibutuhkan hanya wall panel, cat tembok, kuas dan lem.

Yuk, ikutan makeover rumah dengan DIY wall moulding! 

Langkah-langkah pengerjaannya seperti ini:

1. Tentukan desain dari wall moulding yang diinginkan

Ada beberapa model yang banyak digunakan orang. Model yang dipilih akan menentukan banyaknya penggunaan wall panel dan tentunya akan berdampak langsung pada besar biaya yang akan dikeluarkan. Untuk referensi, kita tinggal cari di pinterest ataupun di google dengan kata kunci 'wall moulding' atau 'wall panel' atau 'batten wall'. 

contoh ide wall moulding di pinterest 

2. Hitung penggunaan wall panel

Setelah menentukan desain, hitung panjang dari dinding yang akan dipasang. Kemudian, bagi panjang dinding tersebut dengan ukuran wall panelnya. Ukuran dari wall panel ini bermacam-macam lebar, tebal dan tingginya di banyak marketplace, tinggal disesuaikan sesuai selera. 

ide wall panel yang akan dipakai di kamar

Sebagai contoh, untuk DIY wallpanel setengah dari tinggi ruangan, kami menggunakan wall panel ukuran 5 x 122cm dengan ketebalan 6mm. Jika lebar dinding ruangan adalah 3,5m, maka wall panel yang dibutuhkan untuk desain panel rapat seperti di contoh adalah sekitar 18 panel.

contoh desain wall panel lain

Contoh untuk desain wall panel lain adalah seperti gambar diatas. Kita dapat menentukan dahulu, dindingnya akan dibagi ke berapa bagian wall panel. Di contoh atas tersebut untuk lebar dinding 3m dan ingin dibagi menjadi 5 bagian, berarti kita memerlukan minimal 7 panel dengan jarak masing-masing 38cm. 

percobaan dalam mendesain wall panel 

Wall panel ini sendiri dapat dibeli di marketplace, baik yang sudah berupa potongan maupun yang masih lembaran besar. Jika ingin praktis dan tidak punya alat pemotong dirumah sih, beli saja yang sudah potongan, jadi tinggal pasang saja. Harga untuk wall panel mulai dari Rp 10.000 per lembar, bergantung dari lebar, panjang dan juga ketebalannya. 

wall panel yang baru dikirim dari market place

3. Tempel ke dinding sesuai desain. 

Setelah wall panel dipotong sesuai dengan kebutuhan, saatnya menempel panel tersebut di dinding. Untuk memudahkan, bisa juga dibantu dengan menempelkan lakban kertas terlebih dahulu sebagai patokan (terutama untuk desain yang memiliki jarak besar antar panelnya atau untuk melihat hasil pre-desain pada dinding yang akan ditempel). Untuk yang memilih desain rapat, kita juga dapat menggunakan lebar panel sebagai jarak tempel antar panel. Contoh, untuk kamar kami menggunakan jarak 2 lebar panel (2 x 6mm) sebagai pemisah antar panel. 


Lem yang digunakan adalah lem putih PVAc. Ketika memberikan lem, usahakan lemnya tidak berlebihan sehingga akan membuat bleber ke pinggiran panel. 

pemberian lem pada panel

4. Berikan lis pada bagian atasnya.

Agar lebih rapi, berikan lis pada bagian atas dari wall panel. Bentuk lis bisa berbeda bentuk atau sama dengan wall panelnya, seperti contoh diatas. Untuk tambahan aksesori, bisa juga diselipkan lampu LED meteran di belakang lis.

lis yang kami pakai, berbentuk gelombang.
sedangkan wall panelnya berbentuk lurus. 

5. Cat sesuai keinginan

Untuk catnya, kita pakai cat tembok (bukan cat kayu), beli di Mitra 10. Untuk lebar dinding 3,5m, kaleng 5 kilo ini masih bersisa lumayan banyak. Untuk step pengecatannya, sebetulnya kami mengecat panelnya terlebih dahulu sebelum ditempel ke tembok. Namun kami sarankan untuk mengecatnya setelah ditempel saja karena jika dicat terlebih dahulu maka akan kurang rapi/double cat karena harus mengecat dinding/jarak antar panelnya juga. 



Hasil akhirnyaaaaa:





Alhamdulillah, happy sekalii dengan hasilnya. Anak-anak juga senang karena mereka dapat kesempatan untuk membuat sesuatu. 

Mumpung banyak long weekend dan juga liburan sekolah, siapa tau blogpost ini bisa menginspirasi kegiatan untuk mengisi liburan di rumah, ya :) 
Selamat mencoba!