Thursday, January 19, 2023

Indomie goreng Kari

Mager cooking idea of today is.. Indomie Goreng Kari 😁 

Sudah tentu yaa varian mi instan apa aja dari merk yang satu ini enak-enak semua.. ga usah diapa-apain lagi ditambahin apa aja juga enakk.. ya apa yaa? hehe
Terinpirasi dari komen di salah satu influencer masak yaitu mbak Putri Habibie, yang bilang kalau perpaduan dari Indomie goreng dan Indomie rasa kari ayam itu enak banget.. dan ya, setelah diingat-ingat juga, dulu Indomie mengeluarkan varian indomie goreng kari, indomie goreng soto, dan satu lagi apa yaa lupa.. yang jelas varian yang biasanya dibuat rebus jadi dibuat versi gorengnya gitu, hehe..

Mumpung cuaca di Jakarta bagian coret ini mendukung untuk buat mi instan dan si princess masih bobok, mari kita buat indomie goreng kari dengan sedikit tambahan.

Indomie goreng Kari


Bahan: 
-1 Indomie goreng
-1 Indomie rasa kari ayam
-1/4 kol, potong bite sized
-cabe rawit hijau, sesuai tingkat kepedasan yang dimau
-sedikit minyak untuk menumis

Cara:
1. Rebus kedua mie sampai 1/2 matang kemudian tiriskan, jangan sampai kelembekan yaa
2. Tumis kol dan cabai rawit yang sudah dipotong-potong sampai kol layu
3. Masukkan mie yang sudah direbus tadi
4. Masukkan semua bumbu dari kedua mi
5. Aduk-aduk sampai merata

Simpel dan tentunya ngeunahh, sengaja ga pakai telur supaya rasanya tetap ringan. Kol nya juga menambah rasa renyah dan agar ada tekstur lain selain tekstur mi dari masakan. Cabainya, tentu dong ini yang bikin mata melek 😁

Dan ternyata selain persilangan goreng x kari ini, masih banyak juga yang suka dipadukan ataupun ditambahkan toping beraneka rupa. Ada yang punya resep mi instan unik lainnya? Yuk share di komen sesama penggemar mi instan hehehe

Selamat mencoba dan selamat makan! 😋😋

Tuesday, January 10, 2023

2022 Recap ~~ and Getting Ready for 2023

 Walaupun tahun 2023 sudah berjalan 11 hari, namun tak ada salahnya untuk membuat rekapan tentang pengalaman di tahun 2022 lalu sekaligus persiapan target untuk tahun 2023.. Better late than never, right? Haha..

Alhamdulillah, yang tentunya harus selalu diucapkan, untuk semua peristiwa yang kualami tahun 2022. Tentu, setiap diri kita pasti ada pasang surut dan suka duka selama satu tahun.. Bagiku, kondisi pandemi yang semakin membaik, pindah rumah (lagi), Kakak yang mulai sekolah fullday dan adek juga mulai masuk sekolah, sekeluarga positif covid, dan masih banyak lagi tentunya yang terjadi sepanjang tahun lalu.. Tahun 2022 ini juga Alhamdulillah bisa bepergian ke luar kota karena covid sudah melandai dan bisa refresh sejenak (walaupun kalau bawa 2 anak mah sama aja sibuk ngurus anak ya, cuma beda pemandangan aja hehe)..

Dan di tahun 2022 juga salah satu impian receh saya bisa terpenuhi, yaitu mencoba rekaman di studio! Ada hikmahnya juga untuk menjadi pengurus di organisasi PWP (semacam dharma wanita nya istri pekerja di perusahaan suami), jadi bisa mencoba beragam hal baru dan punya pertemanan baru, dari mulai jadi moderator, buat video, rekaman+syuting video clip lagu, plus sepertinya sudah bisa jadi sarjana canva karena sering bikin ini itu di canva untuk keperluan organisasi :D

Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan di tahun 2022, dan mungkin bisa diterapkan dan mudah-mudahan bisa ditingkatkan tahun 2023 ini, diantaranya:

1. Membuat target awal tahun 

Awal tahun 2022 lalu saya sempat membuat list keinginan untuk hal-hal yang ingin dilakukan selama 1 tahun. Walaupun beberapa dari target itu belum terpenuhi 100%, namun dengan adanya target ini saya jadi termotivasi untuk melakukan hal tersebut. Jangan buat target yang terlalu bombastis, sehingga hanya semangat di awal dan loyo di akhir. Dan target tersebut harus dituliskan, lebih baik lagi bila ditaruh di tempat yang bisa atau gampang terlihat. 


challenge from @bbbbookclub

2. Ikut komunitas (yang bermanfaat)

Saya pribadi bersyukur sekali tahun 2022 kemarin bisa bergabung dengan MGN (Mamah Gajah Ngbelog) dan juga PWP (Persatuan Wanita Patra). Walaupun mungkin tercepot-cepot mengikuti ritme keduanya, misal di MGN saya suka ketinggalan pembicaraan di telegram atau blogwalking, namun sebisa mungkin saya menjaga konsistensi untuk mengikuti semua Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog. Mudah-mudahan di tahun 2023 nanti konsistensi tersebut masih tetap terjaga, Aaamiin..

3. Belajar untuk menata emosi

Overall, penataan emosi saya di tahun 2022 sudah tidak separah tahun 2021 lalu. Namun, masih jauh dari kata cukup. Target tahun ini tentang emosi adalah sederhana: Anak-anak bahagia, Suami bahagia, dan Aku bahagia. Harus bisa menahan diri agar bisa jadi pribadi yang lebih cool, fun, happy daripada hari kemarin. Yuk, kita pasti bisa, Insya Allah. 

Efek mood liburan yang sudah lama tidak menulis blog sepertinya, masih kaku untuk merangkai kalimat, hehe.. Tapi mudah-mudahan sedikit tips diatas dapat berguna, Aamiin

Bismillah, kita bisa lebih baik lagi di tahun 2023 :)


Sunday, November 20, 2022

Keajaiban Tanah Haram

 Bicara tentang pengalaman di luar nalar, sesuai dengan tema Tantangan Ngeblog Mamah Gajah Ngeblog bulan November sekaligus tantangan yang terakhir di tahun ini, yang paling terpikirkan dan teringat adalah pengalaman ketika berada di Tanah Haram, tanah yang penuh dengan keajaiban, di kota Mekkah.

Saat itu kami sekeluarga sedang melakukan umroh. Setelah sebelumnya menghabiskan waktu beberapa hari di kota Madinah, rombongan kami memulai perjalanan ke kota Mekkah untuk melakukan umroh di Masjidil Haram. Saat itu aku masih kuliah dan belum menikah. Kami sekeluarga ber 5 termasuk orang tua dan kedua adik laki-lakiku, serta tante (teman ibuku) dan anaknya, termasuk dalam satu rombongan besar dari agen travel umroh. 

Adikku (yang setelahku langsung, kami panggil Kakang), adalah penyandang autisme. Saat itu dia masih SMA, sedangkan adikku (kami panggil Ade) yang paling kecil masih SMP. Mempunyai anggota keluarga yang autisme membuat keluarga kami selalu bersiaga. Bukan apa-apa, adikku ini sering sekali hilang. Sering sekali pergi sendiri bila pengawasannya lepas, tanpa bilang dulu (untuk kami ini hal yang wajar, karena yang ada dipikirannya hanyalah tempat yang ingin dia tuju). 

Singkat cerita, rombongan besar kami sampai di Mekkah, Begitu sampai di hotel, rombongan langsung bersiap untuk melakukan tawaf dan umroh pertama kami. Kondisi Masjidil Haram saat itu memang sedang penuh, walaupun tidak sepenuh saat musim haji. Tentu saja, saat itu kami belum mengetahui lewat jalan mana menuju Masjidil Haram (letak hotel kami agak jauh dari pintu Masjidil Haram), dimana letak atau posisi dari Kakbah, awal dan akhir tawaf, tempat Sai dan sebagainya. 

Untuk menuju ke Masjidil Haram, dari hotel kami harus melewati pasar. Kondisi saat itu, ramai. Saat itu aku, Abah (papa) dan Ade sudah berbagi tugas. Aku menjaga mama, dan Abah dan Ade menjaga Kakang. Bismillah, kami serombongan berangkat dari hotel menuju Kakbah.

Namun, hanya sekitar 10 menit setelah berangkat, sewaktu melewati pasar, Kakang hilang!

Sungguh, rasanya benar-benar campur aduk. Antara bingung, khawatir, kesal, heran, semua bercampur jadi satu. Abah dan Ade yang memegangi kakang sempat berhenti sebentar untuk membetulkan kain ihram Ade, dan hanya sesaat dari lepas penjagaan itu, Kakang langsung pergi sendiri. Entah kemana. 

Akhirnya rombongan berhenti dan beberapa orang dari rombongan kami membantu Abah dan Ade mencari Kakang di sekitar pasar. Tak ketemu. Setelah 10-15 menit setelahnya, ketua rombongan kami menghampiri kami untuk berdiskusi khawatir karena rombongan besar menjadi tertahan untuk melakukan umroh, padahal saat itu kondisi rombongan sudah capek setelah perjalanan dari Madinah, dan sudah malam (hampir tengah malam), mengejar waktu selesai umroh telah selesai sebelum waktu subuh tiba dan pencarian akan dilanjutkan oleh agen travel setelah umroh selesai dilakukan. Kami sangat mengerti hal tersebut dan kami pasrah.

Bayangkan, dari beribu-ribu orang yang berada di Masjidil Haram, mencari satu orang yang mungkin tidak sadar bahwa dirinya hilang, tidak bisa berkomunikasi dengan baik, mungkin juga tidak mencari kami, tidak pula membawa handphone, bagaimana?

begini kira-kira suasana malam itu. sumber foto: disini.

Selama tawaf, mama sudah lemas dan harus dipegangi di kanan-kirinya. Kemungkinan untuk Kakang tidak ketemu itu sangat besar. Ibu mana yang tak lemas kalau anaknya hilang dan mungkin tidak bisa bertemu lagi dengannya?

Setelah selesai tawaf dan melakukan shalat, aku ingat bahwa aku berdoa yang kira-kira intinya 'Jika ini memang terakhir kami bertemu Kakang, kami ikhlas. Namun jika tidak, pertemukanlah kami dengannya lagi'. Lantai ubin Kakbah yang berwarna putih saat itu terasa sangat sejuk, dan suasana sekitar Kakbah terasa sangat magical. Entah kenapa, saat itu aku merasa bahwa Kakang akan ketemu.

Setelah itu kami melakukan Sa'i diantara bukit Safa dan Marwah. Ketika kami telah selesai dan sedang berada di bukit Marwah, Masya Allah ada salah satu anggota rombongan kami yang berkata bahwa dia melihat Kakang di bukit lainnya. Allahu Akbar.. benar adanya. Kakang dibawa oleh anggota rombongan lainnya ke keluarga kami, lengkap dengan kepalanya yang sudah pitak disana-sini bekas tahalul. 

Begitu kami tanya dia, ternyata dia sudah melakukan umroh sendiri. Urutan-urutan dan tempat-tempatnya pun sesuai. Bagaimana dia bisa tahu? Bahkan aku pun kalau ga ikut rombongan sepertinya akan nyasar karena tempatnya yang sangat luas dan untuk diingat: baru pertama kali dia ke Masjidil Haram ini. Waktu ditanya lagi, 'kok bisa?' dia jawabnya 'diajarin malaikat'.

Mau heran tapi ini di Masjidil Haram....