Friday, May 5, 2023

Kereta Gantung dan Keong Emas di TMII

Sewaktu long weekend setelah Idul Fitri kemarin, rasanya sayang kalau hanya di rumah saja. Mumpung Bapak libur, jadi bisa jalan-jalan yang agak jauh sedikit dari rumah. Maklum, aku orang yang tipenya magerrr banget kalau harus nyupir jauh apalagi macet-macetan, hehe. 

Pilhan untuk jalan-jalan hari itu jatuh ke TMII. Awal rencananya sih, ingin mengajak anak-anak ke museum IPTEK yang berada di dalam kawasan Taman Mini. Seingatku dulu ketika berkunjung kesana sewaktu sekolah, museum itu sangat menyenangkan dengan banyak percobaan atau eksperimen yang bisa kita mainkan. Aku ingin mengajak anak-anakku untuk merasakan kegembiraan yang sama dalam bereksperimen di dalam museum. Dan lagi, tiket untuk masuk museum IPTEK di websitenya tergolong murah, hanya Rp 27.500 per orang. 

Kami berangkat agak siang dengan tujuan makan siang dulu di sekitar kawasan TMII, tepatnya di Green Terrace. Letaknya masih di luar TMII ya, jadi jangan masuk dulu ke jalan utama gerbang Taman mini. Baru setelah melewati jalan utama masuk Taman Mini, ada kawasan Green Terrace yang banyak pilihan resto makanannya. Kalau di dalam kawasan Taman mini itu sendiri memang banyak juga restoran, biasanya CFC ataupun kedai-kedai. Alasan lain kenapa memilih berangkat rada siang adalah karena belakangan ini Jakarta panasssss sekali dan baru mendung sekitar jam 1 siang, jadi lebih sedikit bearable panasnya hehe

Untuk masuk ke dalam kawasan TMII sendiri dikenakan biaya Rp. 25.000 per orang, dan untuk parkir mobil Rp 25.000 juga. Tiketnya bisa dibeli dulu lewat online (ada linknya di ig tmii) maupun dibeli di gerbangnya langsung seperti kami kemarin. Cashless ya, bisa menggunakan Qris ataupun jenis pembayaran lainnya. Parkir mobilnya hanya bisa ditempatkan di area depan sekitar Tugu Pancasila. Ada juga gedung parkir di area bekas Snowbay Waterpark. 

Benar saja perkiraan kami, ketika kami sampai di TMII langitnya sudah lumayan berkurang panasnya dan sedikit mendung. Karena kami parkir di dekat stasiun Kereta Gantung, kami memutuskan untuk mencoba naik kereta gantung dahulu. Fun fact: kereta gantung ini sudah beroperasi dari tahun 1975 loh! Stasiun kereta gantung ini ada 4 yang terbagi menjadi 2 lintasan yang tidak terhubung, yaitu di sebelah kanan dan kiri Danau Miniatur Indonesia. Masing-masing lintasan mempunyai 2 stasiun, di kawasan depan dan kawasan belakang. Kita bisa menaikinya dari stasiun mana saja. Harga tiketnya sebesar Rp 50.000 per orang di loket stasiun untuk 1 rute bolak balik (naik dan turun di stasiun yang sama).



Perlu diingat, operasional dari kereta gantung ini sangat dipengaruhi oleh cuaca, jadi kalau tiba-tiba turun hujan atau angin kencang, penumpang tidak boleh naik dulu ke dalam kereta gantungnya. Seperti kemarin sewaktu kami mengantri, perubahan cuacanya mendadak sekali dari yang awalnya masih terang menjadi hujan deras dan angin kencang yang tiba-tiba disertai petir-petir. Dalam hatiku, untuung saja kita masih antri dan belum naik kereta gantung, parno sekali sepertinya kalau ada di dalam kereta saat hujan sederas itu 😆Jika sudah terlanjur beli tiket dan tidak mau menunggu hujan, jangan khawatir, kita bisa mengembalikan tiket tersebut tanpa biaya di loket. Kami menunggu hujan sekitar 15 menit dan Alhamdulillah hujan sudah berhenti hanya tersisa rintik kecil saja. And lucky us, karena banyak yang refund tiket jadinya antriannya hanya tinggal beberapa orang di depan kami. 

Anak-anak tentu saja senang walaupun awalnya deg-degan sewaktu menaiki kereta gantung ini. Total naik wahana ini hanya sekitar 15 menit.  Aku rekomendasikan untuk mengajak anak-anak kalian untuk naik wahana ini walaupun agak pricey, tapi siapa tau bisa jadi core memory yang menyenangkan. 💙

Setelah naik kereta gantung, kita mencari tempat untuk naik Angkutan keliling untuk pergi ke museum Iptek. Karena lokasi dari museum Iptek yang agak masuk ke dalam dan tentunya lumayan untuk anak-anak berjalan kaki sejauh itu apalagi lumayan banget untuk ortunya kalau harus gendong anak sejauh itu,  maka mau tidak mau kita harus naik Angling. Sebetulnya sudah aware dengan banyaknya komplain mengenai angling ini, ditambah ini sedang musim libur lebaran, tapiii setelah melihat kenyataannya ya rasanya kaget juga melihat antrian naik Angling yang sangat panjang 😁 Akhirnya kami mundur teratur dan memutuskan untuk tidak jadi ke museum Iptek hari itu. 

Hari masih sore sekitar jam 3 dan tidak mau rugi dong yaa sudah bayar masuk TMII tapi masa hanya naik kereta gantung aja?? Akhirnya kita putuskan untuk mencoba melihat jadwal film di Keong Emas. Kebetulan paksu belum pernah masuk keong emas dan akupun hanya sekali, yang kuingat adalah layarnya besaaaaaar sekali. Aku jadi bersemangat ini mengajak si Kakak yang lagi senang-senangnya menonton bioskop untuk mencoba menonton di teater Imax ini. Lucunyaa.. paksu mencari jadwal pemutaran film ini di website dan aplikasi XXI, hahaha ga akan ketemu atuuuuh 😂 

Teater Keong Emas

Area lobby 

Layar di dalam teaternya. Superrr besar!

Pemutaran film dilakukan tiap jam dan untuk pembelian tiketnya loket dibuka setengah jam sebelumnya. Untuk tiketnya ini juga tidak ada nomer kursinya, jadi bangkunya acak dan tempatnya siapa cepat dia dapat tempat enak (ditengah-tengah). Tapi jangan khawatir juga karena tentunya tiket yang dijual tidak akan melebihi kapasitas, malah sayangnya cenderung sepi penontonnya. Untuk harga tiketnya sendiri sebesar Rp 50.000 per orang, bisa tunai maupun cashless. 

Struk tiket. Nanti akan di scan 4x (aku beli untuk 4 orang) sewaktu mau masuk teater.

Jadwal pemutaran film di Teater Keong Emas

Ketika kami datang, ternyata hanya tinggal 1x pemutaran yaitu film yang berjudul Forces of Nature. Oiya, film-film yang ada diputar di Teater Keong Emas itu sendiri memang tujuannya untuk edukasi ya, jadi bukan seperti film bioskop pada umumnya. Film yang kami tonton berkisah tentang gejala-gejala alam seperti gunung berapi, gempa, tornado dengan format seperti film dokumenter khas NatGeo. Kalau aku sih, suka dengan film sejenis itu. Namun untuk anak-anak kecil, mungkin ada yang tertarik namun ada juga yang masih takut karena suara yang keras, ruangan yang gelap dan layar atau gambar yang super besar. Materi filmnya juga mungkin agak berat untuk anak TK atau SD awal, tapi yang jelas sarat dengan ilmu dan informasi dan juga visual yang berbeda dari menonton lewat layar tv di rumah. 

Kami senang sekali dengan kunjungan kami ke TMII kemarin. Walaupun singkat dan ternyata kalau dihitung-hitungnya habisnya lumayan banyak yaaah tapi Alhamdulillah kami puas. Dan jadi kepikiran untuk lebih prepare kalau ke Taman Mini, bawa sepeda anak-anak contohnya untuk keliling-keliling di dalam Taman Mini nya, Insya Allah.  💚

Thursday, May 4, 2023

mie mie dan mie lagi~~

Kalau membicarakan tentang makanan kesukaan, hampir semua orang pasti punya satu atau lebih makanan seperti yang sudah dijelaskan mamah admin MGN di blog Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini. Apalagi kalau tipikalnya stress-eater seperti saya, pasti punya comfort food yang akan memperbaiki suasana hati. 



Bagi saya, olahan mie menjadi salah satu makanan kesukaan yang sering hadir di meja makan. Olahan mie yang cenderung lebih ringan dibandingkan dengan memakan nasi dan lauk, apalagi kalau dimakan ketika masih baru matang dan panas, akan membuat badan dan juga perasaan saya menjadi lebih segar. Mulai dari mie instan, yamien, ramen, udon, soba, pasta (spagetti atau fettucine) dan masih banyak jenis lainnya. Saking sukanya dengan mie, pernah juga sampai menjadi inspirasi sewaktu membuat cerita fiksi berlatar ITB di tantangan bulan MGN, haha

Untuk mie instan, 'Indomie, seleraku..' memang juara, sih.. dari mulai mie instan polos sampai ke mie kuah aneka rasa yang ditopping sedemikian rupa sudah tak terhitung varian yang pernah kucoba. Walaupun kebanyakan makan mie instan itu memang gak sehat (sepertinya semua orang tahu itu tapi masih banyak juga yang sering memakannya) tapi aroma ketika ada orang yang memasak mie instan itu sungguh menggoda~~ haha.. 

Jadi ingat, sewaktu SMA karena hampir setiap hari jajan mie instan di kantin, aku pernah 'distrap' sama teman-teman sekelas. Mie yang sudah terlanjur kubeli dimakan sama mereka, dan ga boleh jajan mie selama seminggu! 😂 Kalau sekarang sih.. makan mie instan karena kabita kalau sedang nonton drakor yang biasanya mereka makan ramyun, lihat kuahnya yang merah itu duhhh.. bikin langsung ingin nyalain kompor.

Olahan mie lain yang jadi kenangan dan jadi kesukaan sampai sekarang adalah mie ayam abang-abang gerobak, Dulu suka beli sewaktu jeda antara selesai kelas dan les pas SD di abang gerobak yang mangkal di depan sekolah. Harganya 1500 kalau tidak salah, cukup mahal untuk anak SD pada waktu itu. Pakai saos merah yang katanya dibuat dari cabe dan tomat kematengan (mau bilang busuk tapi kok yo ga tega... hahaha) tapii justru itulah yang buat tambah nikmat, beda kalau pakai saos kemasan botolan yang biasa ada di mini market. Sampai sekarang ketika harganya sudah 10x lipat juga tetap saja jenis mie ayam ini sering kubeli.



Karena keluargaku orang Bandung, jadi aku juga akrab dengan yamien. Kesukaanku adalah yamien manis. Sewaktu aku kecil dan tinggal bersekolah di Jakarta sepertinya disini belum terlalu familiar dengan yamien yang biasanya kuah dan mie nya dipisah. Apalagi dengan istilah yamien manis atau yamien asin. Tapi sekarang hampir semua gerai mie bisa untuk dibuat ala yamien. Yamien kesukaanku? Tentu aja yamien buatan rumah (mamaku) hehehe.. 

Yamien manis ayam jamur buatan mama @catering.alaatty
Yang mau cobain di daerah BSD bisa juga loh pesan di gofoodnya @bluperrycoffe , restonya sepupuku dan resepnya sama, Insya Allah ngeunahhh

Ketika dulu masih suka ikut annual symposium di Jepang, maka olahan udon jadi salah satu makanan kesukaan apalagi kalau dimakan ketika autumn/winter ketika tim kita yang dari negara tropis ini menggigil kedinginan terkena cuaca hampir 0 derajat. Kuah panasnya yang biasanya terbuat dari serpihan ikan dan sayuran jadi alternatif makanan karena kalau ramen di jepang biasanya terbuat dari tulang babi dan/atau sapi yang belum tentu sesuai syariat sembelihnya. Jadi ketika Marugame Udon membuka gerainya pertama kali di Indonesia, wahhh saya bahagia sekali. Masih ingat rasanya ketika pertama kali mencoba niku udonnya, terharu sekali karena rasa dan cara penyajiannya sangat mirip dengan yang di dekat kampus Kyudai 🙆 



Demikian juga waktu pertama kali mencoba ramen di Seirock-ya, ya ampun sampai heran kenapa bisa ada kuah seenak ituuuuu *lebay* *tapi beneran takjub*. Menu kesukaan tentu saja Tori Paitan Ekstrim Ramen.  Walaupun harganya yang lumayan mahal tapi menurutku worth to buy. Aku ga usah komentar banyak deh tentang ramen ini, silakan langsung aja ke gerai terdekat dan coba sendiri 😆

Dan gara-gara ramen ini pula jadi terinspirasi untuk buat ramen instan ala-ala dari resep di instagram. Dengan effort yang minimalis tapi dapat ramen yang lumayan enak hehee.. Silakan kalau ada yang ingin mencoba juga 😁 

Mie ramen ala-ala:
Kuah: 1 gelas susu kedelai tawar (jangan yang manis yah!), dipanaskan dengan tambahan 1 sdt minyak wijen, 1/2 sdt chicken stock powder, merica, kecap asin/garam (sesuai selera, tambahkan sedikit demi sedikit sampai asinnya pas). 

Rebus mie telor di air terpisah dan tiriskan, masukkan ke campuran kuah tadi, tambahkan toping telur, sawi, bawang daun dan cabai bubuk. Itadakimasu 🙏  



Friday, April 7, 2023

Berburu buku bekas di Blok M Plaza

Kegiatan apa yang suka dilakukan ketika weekend?
Memasuki bulan Ramadhan, kegiatan keluarga kami sewaktu akhir pekan yang biasanya diisi dengan makan di restoran atau mall menjadi tidak bisa dilakukan. Jelas dong ya, kan puasa. Hehe. Kegiatan outdoor pun kami batasi dan biasanya hanya menjelang waktu berbuka, karena kalau dilakukan pagi hari takutnya si kakak akan merong-rong 'hauuuss..hauuuss..' seharian. Tapi rasanya agak gak rela juga kalau memberikan akses ke tv atau komputer seharian. Jadi, ngapain lagi dong ya kita selama weekend?

Karena si kakak suka membaca, jadi setiap bulan kita beri 'jatah' untuk membeli buku pilihannya di toko buku. Masalahnya, buku yang sedang dia senang itu adalah komik berwarna yang 1 buku nya seharga 125ribu, dan habis dibaca dalam 1 jam saja! Boncoss dong yaah kantong kita kalau kita belikan buku-buku ekstra untuk mengisi waktu selama bulan puasa ini, hehe. Akhirnya, terpikir lah untuk membeli buku-buku bekas yang kuperkirakan harganya hanya setengah dari harga aslinya. 

Setelah lebih dahulu browsing dimana toko buku bekas di Jakarta, ternyata ada beberapa tempat untuk pasar buku bekas. Awalnya yang aku tahu ada di pasar senen atau kwitang, karena dulu sekolahku dekat sana. Tapi di kwitang (dulu) pasarnya panas dan di pinggir jalan. Sepertinya kurang nyaman kalau membawa anak-anak kecil. Ada teman juga yang punya langganan toko buku bekas di pasar modern BSD (kalau tidak salah). Hanya saja kalau dari rumahku di cibubur, ke BSD itu seperti melintasi antar kota antar propinsi, jauuhh. Akhirnya, kutemukan pasar buku bekas di Blok M Plaza. Dengan rating yang cukup baik di review google, weekend lalu kami iseng-iseng pergi kesana. 

Kios-kios buku bekasnya terletak di lantai basemen Blok M Plaza. Ada banyak kios-kios bukunya, melebihi yang aku kira. My happy place banget! Disini kita bisa menemukan buku-buku bekas keluaran lama maupun baru. Impor maupun lokal. Ada banyak sekali pilihan novel, buku teks pelajaran, ataupun komik berseri lengkap. Kondisinya juga beragam, rata-rata dari buku-buku ini masih berkondisi baik, hanya kertasnya sudah buram khas buku lama, dan agak berbau apek. Tapi ada juga buku-buku yang kondisinya minus sedikit misalnya sedikit rusak di ujung hardcovernya. Buku-buku bekas ini bisa kita tawar harganya, dan biasanya kalau kita belinya banyak di satu toko tersebut, akan diberikan potongan harga lagi. 

kakak lagi asik milih buku

Tempatnya sendiri nyaman untuk berlama-lama. Bersih dan dingin berAC, seperti mall atau itc pada umumnya. Sewaktu memilih, penjualnya juga memberikan kursi untuk kita agar kita bisa memilih bukunya dengan santai dan sambil duduk, jadi tidak pegal. Saranku, kalau mau kesini mungkin kita bisa putuskan mau beli buku apa, misal mencari genre novel, ensiklopedi, reference book, komik atau buku anak, atau pengarangnya siapa misal mencari Enid Blyton. Karena buku-bukunya kebanyakan ditumpuk vertikal jadi agak susah mencarinya, tapi biasanya penjualnya hapal dengan buku-buku yang mereka jual jadi bisa langsung memberikan kepada kita buku yang kita request





Selain buku bekas, ada juga beberapa kios buku yang menjual buku baru. Namun, saya tidak yakin apakah buku itu memang baru dan original atau bajakan. Harganya memang jauh lebih murah dibandingkan di toko buku seperti Gr***dia, dan penjualnya juga bilang kalau bukunya asli. Ada juga yang menjual buku-buku terbitan Usborne seperti flap booknya dengan harga yang miring hanya 115ribu. Tapi karena saya tidak yakin, akhirnya saya ga jadi beli..
 
Seperti tujuan awal datang kesini, kita fokus untuk membeli buku-buku anak dan komik. Alhamdulillah si kakak happy karena dapat buku komik 'Keluarga Super Irit' kesukaannya. Ibun juga happy karena harganya kurang dari setengah harga aslinya hehee.. Kalau di toko buku besar seharga 125ribu, kemarin dapat seharga 50 ribu. Perbandingan lainnya, komik baru (belum tahu asli atau tidaknya) yang dijual di kios lain itu seharga 85ribu. Kalau untuk harga buku-buku novel impor bekas, dari orang lain yang membeli di kios yang sama sekitar mulai dari 30ribu (setelah ditawar). 

Paketan buku komik warna survival isi paket isi 5 harganya 175rb.. menang banyak :D
 
Karena menyatu dengan mall dan kawasan perbelanjaan, jangan khawatir dengan tempat parkir mobilnya. Blok M Plazanya sendiri tidak terlalu ramai pengunjung jadi nyaman untuk berjalan-jalan juga. So far, kita happy sekali kemarin dan merupakan pengalaman baru juga untuk anak-anak, berbelanja di toko buku bekas. 😊

Siapa disini yang suka beli di pasar buku bekas juga? Yuk kita sharing infonya di kolom komentar!