Friday, May 2, 2014

Buruh, hidup layak atau hidup mewah?

Sebetulnya sampai kemarin aku ga sebegitu excited dan tertariknya dengan MayDay. Aku sih seneng-seneng aja karena MayDay mulai tahun ini dijadikan hari libur nasional, which means aku bisa santai sama suami di rumah. Cuma ya sempet aja kepikiran kenapa mesti sampai dijadikan hari libur segala, dan sampai pada kesimpulan bahwa mungkin pemerintah ngebuat ini jadi hari libur karena hampir semua kegiatan perkantoran terutama di jakarta terganggu akibat demo dari para buruh. Setiap tahun, kayanya pada tanggal 1 Mei aku baca status curhatan temen-temen yang  bilang kalau jalanan jadi macet lah, rusuh lah, dsb. It's kind a relief juga sih kalau ini jadi hari libur.

Ok, back to topic. Jadi pagi ini waktu sarapan kebetulan banget yang disetel di tv itu channelnya tvone, yang sedang membahas ttg tuntutan buruh waktu MayDay kemarin, dengan narasumber dari pihak buruh dan ada dari pengusaha juga (cmiiw, aga lupa juga yg bapak2 itu perwakilan dari mana). Aku sempet baca tuntutan buruh untuk komponen hidup layak yang totalnya ada 89 items.

Yang bikin aku ngelongo, kok kayanya ada beberapa komponen disana yang 'sesuatu banget'.
Misalnya nih, celana panjang atau rok dengan merk Cardinal atau Boss. Setau gw, itu mahal. Dan setau gw, di itc pun banyak celana atau rok yang harganya jauuuh lebih murah daripada itu, dan tentunya sangat layak pakai juga. Okelah celana panjang atau rok itu merupakan bagian dari kebutuhan pokok manusia yaitu sandang-pangan-papan. Tapi dengan merk tertentu yang harganya lumayan mahal itu? Aku rasa itu sudah bukan kebutuhan pokok atau yang mereka sebut dengan kebutuhan hidup layak, tapi sudah masuk ke kategori mewah.

Trus  akhirnya, penasaran lah aku tentang sebenernya berapa sih, gaji mereka? At least berapa sih, nilai UMR per bulan, untuk kawasan DKI Jakarta itu?
Setelah googling, now i know UMR jakarta itu sebesar 2,4 juta. Lagi-lagi, it makes me feel so speechless. Gaji gw dan temen-temen gw yang kerja jadi asisten peneliti di kampus aja kayanya masih dibawah angka UMR yang diagung-agungkan itu, padahal pendidikan kami minimal S2 atau S3. Helloooow!

Yah okelah, jangan bandingin ama keadaan sendiri, subyektif bgt kayanya. Tapi coba aja lihat keadaan para petani atau guru honorer atau tenaga honorer lainnya. Kayanya keadaan hidupnya jauh lebih sekarat daripada para buruh itu tapi kok kayanya ga seheboh itu minta tuntutan sana-sini, bahkan ada tuntutan uang parfum segala. Musim hujan dan panas yang makin ga menentu sekarang ini, jelas makin membuat kacau siklus hidup petani. Padahal makanan yang kita makan itu semua bergantung dari petani. Coba aja kalau petani bisa mogok ga mau nanem padi, 1 masa tanam padi aja, pasti yang ada harga beras jadi melambung tinggi dan kita-kita semua juga yang akhirnya jadi susah. Salut buat petani.

Aku ga bilang dan ga berpikir kalau buruh ga boleh hidup layak. Semua manusia berhak untuk hidup layak kok. Tapi hidup layak itu berbeda dengan hidup agak mewah. Kadang-kadang aku heran, kalau memang begitu banyak tuntutan, berarti kan buruh itu ga puas dengan kehidupan kerja mereka. Kalau mereka ga puas, kenapa mereka ga keluar aja dan berhenti jadi buruh? Satu lagi, daripada mereka beli celana dengan merek cardinal atau boss atau beli parfum atau nonton bioskop dsb, kenapa uangnya ga dipakai untuk investasi reksadana gt atau ditabung buat ambil sekolah keahlian lainnya? Pasti uang yang bakal dihasilkan juga lebih daripada UMR yang setiap tahun mereka tuntut untuk naik. Pemerintah juga sih, kayanya takut banget dan manjain buruh, jadinya buruh hobi banget demo dan kayanya hobi banget nuntut.

Ah entah lah, aku ga begitu tau juga sih masalah ginian. Aku cuma ngomong opini dari kacamata orang awam, bukan dari kacamata buruh atau pengusaha apalagi pemerintah. No offense!

0 comments: