Friday, April 4, 2014

Autis, apa sih itu?

Kalau ditanya 'Autis itu sebenernya apa sih?', i don't even know the exact means, or how to explain it.

Untungnya Wikipedia tahu tentang hal itu, haha.. Jadi menurutnya:
Autisme adalah kelainan perkembangan sistem saraf pada seseorang yang dialami sejak lahir ataupun saat masa balita. Karakteristik yang menonjol pada seseorang yang mengidap kelainan ini adalah kesulitan membina hubungan sosial, berkomunikasi secara normal maupun memahami emosi serta perasaan orang lain. Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan yang merupakan bagian dari Kelainan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD) dan juga merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder (PDD). Autisme bukanlah penyakit kejiwaan karena ia merupakan suatu gangguan yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak dapat berfungsi selayaknya otak normal dan hal ini termanifestasi pada perilaku penyandang autisme. 
(copas dari halaman wikipedia ttg autisme: http://id.wikipedia.org/wiki/Autisme)

Dulu, waktu aku dan kakang masih kecil (dan sampai sekarang), (masih) banyak orang yang melihat perilaku kakang dengan tatapan yang aneh. Mereka pikir dia gila. Bukan, kakang itu autis. Dan autis itu bukan penyakit jiwa, teriakku dalam hati. 


Berbeda, tapi tetap sama. 
Di satu sisi, kami sebagai keluarga dari autisme menganggap bahwa mereka, anak-anak autis, adalah sama seperti kita. Anak-anak autis juga sama seperti kita, punya hati, punya akal, dan bisa merasakan sesuatu seperti apa yang kita rasakan. Namun di sisi lain, kami lebih dari tahu bahwa kami tidak bisa bilang kalau mereka sama seperti anak-anak lainnya. Kami seringkali (selalu) berusaha untuk membuat anak autis menjadi anak yang normal. Normal, dengan artian bahwa mereka dapat hidup dengan mandiri, dengan cara-cara seperti orang-orang kebanyakan dan tanpa bantuan atau perlakuan khusus apapun. Normal, dalam cakupan perilaku, cara berkomunikasi dan tata cara berpikir. Kami tak meminta lebih. Hanya itu harapan kami (aku).

0 comments: